Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

12 September 2021

Susu: sebuah tinjauan kebudayaan

Seperti yang kita ketahui susu merupakan elemen pelengkap yang penting bagi tubuh manusia. "4 sehat 5 sempurna" menempatkan susu pada posisi penting unsur nutrisi kebutuhan tubuh manusia. Saking pentingnya susu, minuman ini menjadi produk yang banyak dicari berbagai kalangan baik tua maupun muda.

Sejarah Susu

Domestikasi sapi sudah berlangsung sangat lama. Menurut catatan penelitian sejarah, pemerahan susu pertama dalam sejarah terjadi sekitar 8.000 SM di Mesopotamia. Saat itu, bangsa Sumeria sudah mulai menjinakkan sapi, dan mengolahnya jadi konsumsi, termasuk susu. Penelitian lain juga menyebut masa Mesir kuno, kisaran 3.000 SM, sebagai awal manusia mengonsumsi susu. Di era itu, sapi mulai dipelihara karena dianggap hewan suci.

Orang-orang Mesir membawa sapi suci dan mempersembahkannya pada Isis, dewi pertanian. Sapi juga diyakini sebagai dewi bernama Hathor, yang bertugas menjaga kesuburan tanah Mesir.

Temuan lain menyebut, di India kisaran tahun 2.000 SM, juga mulai muncul ketergantungan pada sapi dan produk susu.

Ini karena peradaban Veda yang memerintah India Utara sekitar tahun 1.750 SM sampai sekitar 500 SM, menjalankan ajaran Weda, di mana sapi dianggap sebagai hewan suci. Masyarakat pun menjadikan susunya sebagai konsumsi.

Penelitian paling mutakhir adalah bukti awal adanya sapi perah di Inggris Neolitik sekitar 4.000 SM.

Lewat sejumlah kajian, para ilmuwan menemukan bahwa petani Neolitik di Inggris dan Eropa Utara, diduga jadi yang pertama kali memerah susu untuk konsumsi.

Panuli Milk

Sebagai salah satu produk andalan kami, Panuli Hijau Berdaya, melalui salah satu unit usaha kami Panuli Farm dan Pawon Omah Panuli telah merilis susu segar sapi perah rakyat yang kami beri beri nama Panuli Milk.

Selayang Pandang

Panuli Nomad Farm adalah suatu gerakan alternatif yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan hidup dan kebudayaan leluhur dengan mempraktikkan cara hidup selaras alam.

Misi kami yaitu "Berbagi dari kebun hingga dapur. Berpindah-pindah dari Pulau ke Pulau."

Panuli Nomad Farm membuat, menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan produk pengetahuan mengenai pertanian organik, agroekologi, biodinamik, dan pengelolaan lingkungan berbasis bentang alam dan bentang kehidupan termasuk ragam penghidupan berkelanjutan di pedesaan melalui channel youtube ini.

Instagram:
@gusipul
@annise_sri
@panulihijau

Facebook:
Panuli Hijau Berdaya

Fanpage:
@panulihijauberdaya
@panulifarm

19 September 2019

Melepas Tawa Senjan di Cafe Embung Turi-Turi

Ada yang tau Embung? Atau pernah mengunjungi Embung?

Embung merupakan danau kecil atau waduk bersekala kecil yang dibuat dengan fungsi mencukupi kebutuhan air saat kemarau. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kurang lebih 49 embung tersebar di empat kabupaten. Selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air, embung juga digunakan sebagai objek rekreasi dan pariwisata. Saya tidak akan mengulas banyak tentang fungsi dan definisi atau struktur bangunan embung.

Perjalanan saya kali ini, singgah di salah satu tempat tongkrongan yang berada di pinggir Embung Turi, Sleman. Cafe ini namanya Turi-Turi Coffee. Bagi kamu yang ingin melepas penat, kafe ini bisa menjadi solusinya.

Berada di pinggir Embung, membuat Cafe Turi-Turi punya suasana yang khas. Pemandangan yang disuguhi dengan berbagai wahana pendukung embung membuat suasana hati menjadi gembira.  Beruntungnya saya, saat berkunjung ke Embung ini, suasana sendang senja. Saat itu, cafe tidak terlalu rame, sehingga menciptakan suasana yang Romantis.






Interior cafe ini juga cukup menarik hati. Di depan cafe tepatnya di pinggir Embung berjajar tempat duduk dan kursi. Tempat ini sangat strategis untuk menikmati senja bersama kolega atau teman akrab atau juga teman terkasih. Jika tidak kebagian tempat duduk dipinggiran Embung, spot lain yang tidak kalah bagus adalah spot depan Cafe atau depan dari spot duduk pinggiran Embung. Spot ini dibuat dengan interior mirip di Kafe-Kafe pinggir laut dengan hiasan ban orange bergantung di bawah mejanya. Disebelahnya juga terdapat manik-manik laut seperti jangkar dan dua keran kembar.

Konsep berbeda guna disuguhkan saat saya masuk ke teras Cafe. Interiornya lebih bernuansa tempo dulu dengan kursi kayu kombinasi ayaman dan meja bulat. Semakin ke dalam, interior yang disuguhkan lebih ke kombinasi interior Jawa dan barang-barang antik seperti cendela jaman dulu dan mesin jahit Singer. Sangat cocok untuk mereka yang hobby bersua foto.



Saat saya datang, mayoritas pembelian adalah mereka yang ingin melepas senja dengan teman-teman nya atau orang terkasih. Mereka memilih tempat strategis mereka. Beberapa orang lebih memilih bersua foto dengan latar belakang pilihan masing-masing. Saya yang saat itu datang dengan suami saya, memilih duduk di kursi kayu kombinasi anyaman dengan meja bulat. Kami bernostalgia dengan masa lalu masing-masing diatas kursi kayu kombinasi anyaman.

Menu yang ditawarkan pun cukup beragam, dari olahan lokal hingga minuman mancanegara semua ada. Aliran kopi mereka adalah Americano dengan jenis Arabika yang ditawarkan saat  itu ada Kerinci, Papua, Manak, Gayo, Toraja dan Wonosobo. Sedangkan robusta adalah Lampung dan Wonosobo. Saya memesan alternatif selain kopi, karena ingin mencicipi menu lain selain kopi. Jadilah kami memesan Taro Velvet,Hot Chocolate Dan Lumpia. Seperti kebiasaan, kafe-kafe pada umumnya, setelah pesanan di catat, pembeli langsung membayar nya. Saya mendapatkan pesan dari kasir, dia mengatakan untuk mengambil pesanannya sendiri sesuai nomer meja yang saat itu diberikan nya. Cukup unik tapi mengejutkan, dari beberapa kafe yang saya singgahi kafe inilah yang menyilakan pembeli mengambil sendiri pesanannya di meja bar.



Sekitar lima belas menit, ada panggilan nomor meja dan saya tahu itu meja saya. Saya pun menghampiri meja bar tempat saya memesan tadi sambil membawa nomor meja. Segelas Taro Velvet dengan Hot Chocolate dan dua lumpia dipiring, saya bawa dengan nampan.  Uniknya Taro Velvet dan Hot Chocolate dialasi kayu dengan bentuk yang abstrak, berukir Turi-Turi Coffee.

Saya dan Suami memberikan testimoni pertama setelah pesanan itu mendarat dengan selamat dimeja kami. Saat menyeruput segelas Taro Velvet dan Hot Chocolate pesanan masing-masing, kami segera berkomentar, rasa Taro Velvet saya benar-benar terasa kental umbi Ungu dan Hot Chocolate milik Suami, rasanya lebih soft dengan rasa manis menyeruap perlahan. Tuntas satu seruputan perdana, kami menikmati lumpia dua buah dalam satu piring. Rasanya sangat Semarangan sekali, isi lumpia ini rebung dengan perpaduan ayam dan wortel, mengingatkan saya pada lumpia khas Semarang. Kami masih menikmati senja dengan segala nostalgia barang-barang tempo dulu disana. Senja yang berganti gelap membuat kami harus pulang. Kafe itu masih ramai dengan pengunjung berdatangan terus menerus.




Kamu yang tertarik nostalgia dengan barang-barang lama atau sekedar menikmati syahdunya senja dipinggir Embung, Turi-Turi Coffee bisa jadi salah satu alternatifnya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!!!

15 September 2019

Kolaborasi Dua Generasi dalam Industri 4.0 dalam sebungkus Jamur Krispi

          Jamur Tiram, Siapa yang tidak tahu jamur putih nan enak itu? Berbagai olahan seperti Sop, Tumis dan krispi akan lebih lezat ketika jamur ini menjadi bahan utamanya. Jalan-jalan Sabtu pagi di keramaian Museum Gunung Merapi, saya menemukan olahan jamur yang kemasannya sangat enak dipadang. Olahan tersebut adalah krispi Jamur Tiram. Camilan kaya gizi ini hanya ada satu-satunya di Gelar Prodak UKMK yang diselenggarakan di pelataran Museum Gunung Merapi. Stand camilan kaya gizi ini, milik Bu Tari. Lebih menarik perhatian lagi, ketika salah satu produk jamur krispinya sedang promo.

         Ketika saya mendekati stand tersebut,  dengan ramah saya ditawari untuk mencicipi berbagai rasa dari Jamur Krispi yang ada. Sayapun tak membuang kesempatan tersebut, saya segera mencicipi krispi jamur rasa original. Rasa krispi jamur ini sungguh tidak menghilangkan rasa asli dari jamur itu sendiri. Ditambah renyahnya tepung membuat saya tak mau berhenti mengunyah. Rasa original tak juga mengobati rasa penasaran, saya kembali mencicipi krispi jamur rasa pedas level satu. Dari gigitan pertama rasa renyah tetap saya dapatkan dengan perpaduan rasa gurih berbalut pedas yang pelan-pelan muncul menyelimuti rasa asli jamur. Meski tidak terlalu pedas, level satu cukup cocok untuk mereka yang tidak terlalu suka pedas. Rasa penasaran masih juga tak kunjung terobati, saya pun merasakan tester jamur krispi pedas level 2 dan 3. Dua level ini cukup membuat saya melek, karena tingkatan rasa pedasnya lebih mantap dan terasa dari level satu. Untuk kalangan muda yang suka dengan tantangan pedas, level dua dan tiga adalah pilihan yang tepat.

Foto Berburu Prodak Sehi Rame-Rame


Stand Bu Tari Rame Pembeli

            Terpikat dengan rasa jamur krispi yang ditawarkan, membawa saya pada obrolan ringan terkait sejarah dari produk Jamur Krispi Bu tari. Pada stand Bu Tari terdapat beberapa produk snack ringan, salah satunya jamur krispi Bu Tari Original dan Balado, Jamur Krispi Sehi empat rasa dan manisan salak kering. Dulunya produk Bu Tari hanya jamur tiram biasa yang dibudidayakan lewat Kumbung Jamur di sebelah rumahnya pada tahun 2012. Jamur tiram mentah dijual di pasar dan penjual sayuran di wilayah Purwobinangun atau juga biasanya diambil penjual ke Rumah Bu Tari.

“ Waktu itu saya belum punya ide mbak, mau diapakannya jamur ini. Saya baru mulai mengolah sendiri itu tahun 2014, saya olah krispi. Saya punya ide mengolah Jamur Krispi itu Karena mengisi waktu luang. Daripada bingung habis panen diam aja mending ngolah jamur.” Terang Bu Tari
         Jamur Krispi yang telah diolah dikemas dalam wadah plastik snack tebal dan di sealer. Produk ini dititipkan ke beberapa toko dan mini market sekitar Purwobinangun. Rasa yang ditawarkan dari jamur krispy Bu Tari waktu itu masih jamur krispi rasa original dan balado. Label kemasannya pun masih sederhana, dengan plastik dan stiker produk diatas kemasan dan diplastik depan kemasan. Satu kemasan di jual dengan harga Rp. 13.000,- / 100 gram. Tingkat keuntungannya pun lebih banyak dari pada dijual dalam produk mentah. Selain itu, Bu Tari juga membuat manisan salak dengan harga Rp. 16.000,-/100gram. Manisan salak ini menjadi produk olahan lain yang peminatnya juga tak kalah banyak dari prodak jamur krispinya.

Kolaborasi Berdaya Jual Tinggi

        Seiring waktu Bu Tari terus berinovasi pada produk krispi jamurnya. Berbagai saran konsumen, ilmu-ilmu dari pelatihan PLUT-UKMK di Yogyakarta dan rajin mengikuti pameran, akhirnya Produk Jamur Sehi pun tercetus. Bu Tari tidak sendiri, dia berkolaborasi dengan anak laki-lakinya yang baru lulus dari Jurusan akuntansi STIEYKPN untuk menciptakan terobosan varian dan kemasan baru. Bu Tari meyakini kalau generasi saat ini lebih memiliki koneksi yang luas terlebih lagi di dunia sosial media.

          " Kalau Sehi ini anak saya Mbak, kebetulan baru lulus kuliah terus saya ajak. dia yang tau                     online sama yang buat labelnya itu ya dia" Jelas Bu Tari 

             Kolaborasi dua generasi antara ibu dan anak, melahirkan produk Jamur Krispy Sehi, dengan varian empat rasa yakni rasa original, Pedas level 1, level 2 dan  level 3. Kemasannya pun menggunakan standing pouch transparan satu sisi dan stiker tiga perempat sisi depan berwarna kuning. Inovasi ini baru mulai dikenalkan pada gelaran prodak UKMK yang diselenggarkan oleh PLUT-UKMK di Yogyakarta  di pelataran museum Gunung Merapi 13-15 September ini. Nama Sehi sendiri adalah singkatan dari nama panggilan ke empat anak Bu Tari yakni  Sita, Elin, Hima dan Ida. Dari kemasan baru ini, pasarpun menyambut baik. Banyak konsumen yang mulai tertarik membeli produk Jamur Krispi Sehi. Apalagi dalam peluncuran perdananya produk Jamur Krispi Sehi di jual dengan harga promo Rp.10.000,-/ Rp. 75 gram dari harga Rp. 13.000/75 gram. 

Sehi dan Produk Kripik Jamur dan Manisan Salak Bu Tari
         Berkolaborasi dengan kaum muda dirasakan Bu Tari mampu meningkatkan pendapatan. Terlebih lagi Hima, anak laki-laki Bu Tari, menggunakan model Industri 4.0, dimana lebih memanfaatkan jaringan online seperti Tokopedia, Bukalapak dan Instagram. Kolaborasi ini, membuktikan bahwa SDM unggul ternyata tidak datang dari yang muda saja. Generasi tua pun, jika didampingi generasi muda dan berkolaborasi mampu memicu meningkatkan ekonomi secara signifikan. Dari harga produk Jamur Kripi Bu Tari Rp. 13.000/100gram kini Jamur Krispi Sehi Rp. 13.000/75gram. Meski inovasi produk Kripik Jamur Sehi sudah mulai banyak diminati, kedepan kemasan plastik dengan merk Bu Tari tertap di produksi. Produk tersebut nantinya ditujukan untuk kalangan rumah tangga dan pasar lokal, sedangkan Kripik Jamur Sehi pada pasar kaula muda melenial dan pasar online. Pola kolaborasi dua generasi ini bisa menjadi pioner dalam dunia UKMK, apalagi wujud pengembangan ekonominya berbasis keluarga. Jadi, jika ada banyak Bu Tari dan Hima lainnya, tentu Indonesia akan lebih mapan dibidang UKMK.

  
Penasaran dengan produk Jamur Sehi dan Jamur Krispi Bu Tari? Langsung aja cek Instagram @Jamur.krispi.butari atau langsung cek di marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak. Jangan lupa kunjungi website www.diskopumkm.jogjaprov.go.id dan www.plutjogja.com  



10 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Kisah Cinta dan Kesetian Sang Mahapatih Gajah Mada (Edisi Kedua)


    Sebuah kisah cinta terekam dari Petilasan Mahapatih Gajah Mada di Desa Lambang Kuning. Keberadaan Gajah Mada di Desa tersebut dilatarbelakangi kisah cinta antara Hayam Wuruk dan Sri Dyah Pitaloka Putri Cantik dari Kerajaan Padjajaran. Raja Hayam Wuruk bermasuk ingin melamar Sri Dyah Pitaloka untuk dipersunting olehnya dan mengutus Patih Gajah Mada dalam proses lamaran tersebut. Mahapatih Gajah Mada menolak rencana itu, baginya dia telah berjanji pada sumpah Palapanya bahwasanya semua kerajaan termasuk padjajaran harus takluk dibawah panji-panji Majapahit. Putri Padjajaran menurutnya harus menjadi putri sasrahan atau putri taklukan dan bukan dilamar seperti yang dimaksud Raja Hayam Wuruk.

Foto Papan Informasi Kisah Cinta Maha Patih Gajah Mada 

    Terjadi pertempuran antara Majapahit dan Padjajaran yang mengakibatkan gugurnya Raja Padjajaran beserta Putrinya Sri Dyah Pitaloka. Mendengar berita tersebut Raja Hayam Wuruk murka  kepada Mahapatih Gajah Mada. Untuk menghindari konflik saudara di kerajaan Majapahit, sang patih pun mengalah meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri jauh dari pusat kerajaan dengan membawa sekelompok pasukan inti kerajaan yang bernama Bayangkara.

Foto Pagar Makam Roro Kuning 

       Tempat pengasingan sang Mahapatih berada di sebelah barat Sungai Brantas tepatnya diwilayah perdikan Karang Kletak. Wilayah ini sebelumnya telah di babat oleh Senopati Majapahit yakni Iro Robo. Sebelum Patih Gajah Mada datang, Iro Robo telah menyiapkan sebuah benteng yang terbuat dari batu bata merah serta sebuah rumah yang terbuat dari Gladak Kayu Jati di Puthuk Boto yaitu 300 meter dari lokasi situs Petilasan Gajah Mada. Rumah Gladak Kayu Jati tersebut telah lama dihuni oleh Ratu Niang atau Roro Kuning atau Rondo Kuning yang telah dijaga Senopati Iro Boro beserta puluhan pasukannnya.

Foto Makam Roro Kuning 

      Setelah tiba di Karang Kletak, Patih Gajah Mada menikah dengan Roro Kuning dan hidup sederhana menjadi seorang petani dan beternak untuk menghilangkan jati dirinya. Dia juga dikenal dengan panggilan Mbah Budho. Dengan nama panggilan tersebut diharapkan prejurit pimpinan Hayam Wuruk kesulitan menemukannya. Dalam persembunyiannya Mbah Budho melakukan pertapaan atau semedi kepada Sang Hyang Widhi  untuk menyempurnakan hidupnya. Beberapa karya beliau hasilkan seperti Kitab Sutasoma, Negara Kertagama dan Kutara Saranawa. Kitab Negara Kertagama menuat kalimat “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangwara” yang artinya Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang bermuka dua. Kata Bhineka Tunggal Ika sekarang ini menjadi simbol negara Indonesia yang tertulis dalam pita yang di cengkram burung garuda.

       Kisah cinta sang Patih kemudian dipisahkan oleh maut, Nyai Roro Kuning meninggal dan dikebumikan di Desa Lambang Kuning yang saat ini menjadi situs petilasan. Makam utama yang berpagar dinyakini adalah Makan Nyai Roro Kuning yang didekatnya terdapat batu datar tempat semedi sang Mahapatih. Mahapatih pun memutuskan pergi dari desa tersebut dan membawa pasuakannya. Beberapa literatur menjelaskan Patih Gajah Mada pergi ke Bali dan menikah dengan anak raja, namun informasi ini silakan dicross cek sendiri. Berapa keyakinan masyarakat, Patih Gajah Mada Moksa atau hilang di suatu tempat yang diyakini ada di Trenggalek yakni Gua Gajah Mada.

        Foto Makam Roro Kuning dari sisi Barat 

        Seluruh sumber cerita ini merupakan sanduran dari informasi di papan informasi yang kata-katanya mulai meluntur terkena hujan dan panas. Bagi yang tertarik dilakan datang langsung ke Desa Lambang Kuning di Kertosono Nganjuk ya…!

01 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Situs Sejarah yang Kaya Cerita (Edisi Pertama)


     Siapa yang tak mengetahui nama besar Patih Gajah Mada. Beliau adalah Mahapatih Kerajaan Majapahit yang sudah terkenal di seluruh nusantara. Sumpahnya yang di namai sumpah Palapa menjadi salah satu ciri khas dalam perpolitikannya. Bunyi sumpah itu tidak lain adalah Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa atau dalam Bahasa Indonesia Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa. Sumpah itu tidak lain adalah ambisinya untuk menyatukan seluruh wilayah menjadi kenegaraan Nusantara atau Nuswantoro dengan Majapahit sebagai pusat pemerintahannya. Bagaimana kisah hidup Maha Patih ini?

     Berbagai penelitian dari ahli sejarah dan arkeologi yang mencoba untuk mencari jejak Sang Mahapatih Gajah Mada, namun sampai sekarang belum juga menemukan sebuah kepastian siapa sebenarnya Gajahmada. Berjalanan ekspedisi saya kali ini menemukan sebuah situs mengenai jejak sang mahapatih  yang ternyata tidak jauh dari rumah tinggal saya. Situs ini bernama Petilasan Agung Mahapatih Gajah Mada yang terletak di Desa Lambang Kuning, Kecamatan Kertosono Nganjuk. Terdapat banyak pepohonan, namun yang menyita perhatian adalah dua pohon beringin besar disana dan empat makam yang diselimuti kain pada batu pusaranya. Satu makam mendapat kekhususan, dari tata letaknya dia berada diantara dua pohon Beringin dan berpagar kuning rapat yang mengelilingi makam dan dua pohon beringin tersebut. Tiga makam lainya berada diluar pagar dan dibatasi dengan kain kuning dan rerimbunan pepohonan.

Foto Bangunan Utama Makam Roro Kuning 

      Menurut keterangan warga sekitar, keadaan situs ini dulunya tidak terjamah manusia. Masyarakat hanya tau disitu terdapat makam kramat dan merupakan petilasan Mahapatih Gajah Mada, namun masyarakat sekitar jarang mendatangi lokasi tersebut. Wilayah tersebut dulunya dikenal sebagai wilayah yang angker dan hanya orang-orang tertentu yang punya maksud dan keinginan mendatangi lokasi tersebut. Keadaanya sangat bertolak belakang dengan sekarang. Sejak dipugar  November 2008, situs ini lebih terbuka dan tidak seseram dahulu. Terlebih saat ini situs ini dikelola langsung oleh Paguyuban Petilasan Agung yang seluruh anggotanya lintas profesi dan Yayasan Kertagama Jakarta. Uniknya lagi tidak ada petugas kebersihan yang berjaga. Seluruh urusan bersih membersih melibatkan pengunjung dan dilakukan secara sukarela. Barang siapa yang ingin membersihkan (menyapu dan membersihkan toilet) dipersilakan, jika tidak mau atau hanya ingin berkunjung saja juga dipersilakan.

Foto Batu Peresmian Petilasan Agung 

Foto Banner Sekertariat Paguyuban Petilasan Agung
      
       Kata Petilasan sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia bekas jejak pertapaan. Diyakini makam utama yang berada di dalam pagar adalah makam Roro Kuning Istri Sang Mahapatih Gajah Mada beserta batu tempat bertapa, sedangkan diluar pagar adalah prajuritnya yang gugur saat Mahapatih bertapa di Desa Lambang Kuning. Banyak bekas dupa disekitaran makam utama. Seperti saat lebaran idul fitri kemarin banyak nya berziarah yang menyalakan dupa dan memanjatkan dupa.



Foto Makam Prajurit 

        Terdapat warung kecil sepuluh meter di selatan makam utama. Diakhir pekan warung ini ramai kunjungan para muda-mudi dan anak-anak. Selain kantin bangunan pendopo kecil peratap segilima juga terdapat di dekat pintu masuk. Rata-rata mereka memesan makanan di warung dan membawanya ke pendopo kecil tersebut sambal bercengkrama meninkmati sejuk dan rindaknya pepohonan. Menu yang ditawarkan oleh warung tersebut cukup beragam, dari mulai mie instan goreng hingga rebus plus telu, kopi, susu, teh, minuman sigmafit (tidak sebut merk) tersedia dan siap di pesan. Tidak ada tarif untuk masuk ke situs ini.

        Ada secuplik kisah cinta yang terekam dalam teks yang tepampang di papan Informasi. Ada baiknya kisah itu dilanjut di edisi kedua ya… ! dari pada yang baca kepanjangan, mending di bikin penasaran dulu hehehe. Oke selamat membaca beberapa informasi ini.

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me