Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

23 Februari 2019

Jajanan Rakyat, UKM Sederhana yang Menjanjikan


Setiap orang Indonesia pasti tidak asing dengan jajanan gorengan ala rakyat. Dari mulai Bakwan, Laba-Laba, Cilur, Telur Gulung, Sempol, Tempe Mendoan dan masih banyak lagi. Makanan seperti sangat digemari di segala usia. Peminatnya yang lumayan banyak membuat omset berdagang gorengan cukup menjanjikan. Pedagang makanan seperti itu, juga sangat gampang ditemui, termasuk dalam ekspo Jogja Surganya Kuliner yang digelar di JEC.


Tidak hanya jajanan gorengan, kuliner dari level berat hingga ringan bisa dijumpai pada ekspo yang di gelar sejak tanggal 20-23 Februari 2019 ini. Selain makanan stand batik dan aneka ragam kerajinan khas Jogja dan sekitarnya dapat dijumpai dengan mudah. Menariknya sepanjang kunjungan saya ke Ekspo ini mayoritas pedagang yang menjajakan makanan pada stand kuliner adalah para perempuan, begitupun pada stan kerajinan khususnya batik.

Saya tertarik untuk melihat keseluruhan stand kuliner yang ada disana. Sepanjang mata memandang ada beberapa kuliner yang memikat saya untuk membeli. Jajanan Telur Gulung dan Sempol membuat saya kembali bernostalgia dengan masa kecil dan masa kuliah saya. Harganya pun cukup bersahabat, satu tusuk dijual dengan harga seribu dan dikemas dalam satu paket seharga lima ribu rupiah isi lima tusuk. Menariknya dengan harga jual yang relative murah, ibu-ibu penjualnya mengaku cukup untung dan menjanjikan.

Salah satu stand pertama yang saya datangi adalah stand Bu Narti. Stand jajanan rakyat ini menjual Telur Gulung, Sempol Ikan, Sempol Ayam, Bakso Pedas, Ondol-Ondol Jepang, Ceker Pedas Dan Sosis Telur. Seluruh aneka kuliner yang disajikan dihidangkan langsung ke para pembeli. Cara ini memudahkan pembeli memilih menu kesukaan mereka. Omsetnya juga cukup menjanjikan. Dengan hanya berjualan jajanan rakyat, Bu Narti dapat mengatongi pendapatan kotor hingga tiga juta rupiah.
Pola jualan, pedagang jajanan rakyat yang satu ini, juga cukup unik. Bu Narti yang ditemani iparnya saat berjualan, mengaku menjajakan dagangannya di ekspo-ekpo rakyat yang di gelar di Yogjakarta. Banyaknya even festival yang digelar, menjadi peluang bagi ibu rumah tangga ini menjajakan dagangannya langsung ke pembeli.



Saya memulai ini baru tiga tahun ok mbak. Awalnya ya lihat list di Instagram lalu di jadwal. Pas rame itu lumayan mbak bisa tiga juta kalua sepi hanya kurang dari satu juta. Itu sudah lumayan mbak namanya kita jualan ya pandai-pandai kita”. Jelas Bu Narti. Selain Bu Narti, ada juga Bu Susi yang juga menjualan penganan rakyat murah meriah. Stand Bu Susi menjual Cimol, Cireng, Sempol dan Telur Gulung. Semuanya dijual dengan harga satu paket sepuluh ribu plus dengan bonus satu tusuk sempol.


Sejak setahun terakhir Bu Susi mengatakan, dirinya bergabung dengan grup UMKM yang dibina langsung oleh Dinas Koperasi UKM DIY. Mulai 22-23 Bu Susi mendapat fasilitas stand dideretan binaan dinas tersebut. Setiap harinya Bu Susi manjajakan jualannya di Condong Catur dan Kadisoka Yogyakarta. Bu Susi juga sering menjajakan dagangannya di berbagai ekpo dan festival. Bahkan beberapa kali kulinernya masuk dan diliput beberapa koran On-line.

Kemarin Mbak! kalau pas ramai jualan kayak gini di karapan sapi Wedomartani, enam jam sudah dapat satu juta lima ratus”. Ungkap Bu Susi. Dalam menjajakan dagangannya dia ditemani oleh suaminya. Rasa dan karakter aneka makanannya juga ditemukan dari resep eksperimennya tanpa mengandalkan resep google.

Wanita Dalam Peluang Emas Kemajuan UMKM Indonesia

Dalam penelitian IFC memaparkan pada Agustus dan September 2015 lalu tercatat sebanyak 360 UKM dari 600 UKM yang terdata dimiliki oleh perempuan. Dalam hasil penelitian juga disebutkan bahwa masih banyak UKM yang dimiliki oleh perempuan yang tidak terdaftar secara formal, hal ini menghambat temu gelang antara pedagang dan perusahaan besar.

Dari dua stand jajanan rakyat yang saya temui di ekpo jogja surganya kuliner, satu pedagang tergabung dalam binaan Dinas Koperasi UKM DIY sedangkan satunya berjalan secara mandiri. Dua duanya dijalankan oleh perempuan dan memiliki omset yang cukup menguntungkan.

Seperti omset tiga juta rupiah yang di dapat oleh Bu Narti. Omset ini dapat melijit lebih tinggi lagi apabila strategi jualannya bisa dimaksimalkan. Variasinya bisa berupa jualan on-line, franchise dan pengemasan yang lebih modern. Tentu hal ini menjadi peluang yang lebih menjanjikan untuk mengembangkan potensi UKM para perempuan. Disamping itu, UKM yang telah terdaftar seperti Bu Susi, mendapat fasilitas informasi yang lebih update disbanding mereka yang belum terdaftar. Apalagi Jogja telah membuat layanan Jogja@access yang secara fungsinya sama seperti e-money lainnya. Tidak hanya itu, produk UKM dan pentas seni kebudayaan semua ditampilkan sehingga lebih dekat dengan para calon wisatawan.

Even semacam ekpo jogja surganya kuliner ini, telah difasilitasi berbagai konten yang sangat lengkap. Termasuk informasi Jogja@acces yang akan menjadi e-money milik jogja. Bukan tidak tentu lagi, jajanan pasar Bu Susi dan Bu Narti akan lebih mudah didapat dan dibayar lewat online. 


16 Februari 2019

Perempuan Bertumbuh Lewat Usaha Kelompok Kreatif Mikro Pedesaan


Usaha membuahkan hasil setelah seseorang tidak akan menyerah. Ungkapan Napoleon Hill ini cocok untuk menggambarkan keadaan pagi ini. Puluhan orang menjajakan dan memperkenalkan produk unggulan dari berbagai daerah di provinsi daerah Istimewa Yogyakarta dalam Ekspo UKM Istimewa yang digelar di halaman Dinas Koperasi UKM DIY . Bertema Enterprenuer Itu Keren ! Para pengrajin menampilkan produk- produk keren mereka. Sesuai dengan program Industri 4.0, Ekspo ini lebih menonjolkan food and beverage dan textile and appear. Dari cemilan ringan, makanan berat, batik, kerajinan hingga beragaman minuman segar menyehatkan tersaji lengkap.

Banyak cerita menarik melatarbelakangi motivasi setiap wirausahawan yang hadir di Ekspo UKM Istimewa. Semangat mengangkat prodak dan menciptakan peluang pasar menjadi cerita yang dibincangkan kepada para komsumen. Sekmen produk dan ceritanya pun bermacam-macam. Untuk segmen pasar pencinta kopi mereka saling berbagi cerita tentang roasting kopi, asal muasal kopi hingga rasa khas kopi. penggemar batik, remaja melenial, ibu-ibu rumah tangga  mereka yang punya rasa dan selera masing-masing memilih perbincangan asyik di stand masing-masing penjual.  Saya pun tidak ketinggalan untuk ikut masuk pada perbincangan beberapa stand yang ada.

Banyak berbagai kisah yang mengispirasi dari usaha pada wirausahawan dan wirausahawati untuk memperkenalkan keunggulan produk mereka. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah seorang ibu yang menjajakan Kripik Pisang Coklat. Tadinya saya mengira prodak ini hanya prodak olahan biasa, namun dibalik itu ada cerita yang menarik untuk di dengar. Lewat tampilan prodak kripiknya, ketua KWT bernama Suhartini ini menjelaskan bahwa prodaknya beda dengan yang lain. Sembari mencicipi kripik Pisang Coklat di toples tester, dia bercerita bahwa olahan kripik ini di campur dengan berbagai bahan tambahan seperti susu dan gula halus. Bahan utamanya pun, yakni kakao diambil dari hasil pertanian dusun tempatnya tinggal.

Melirik tampilan kemasan produknya pun juga sangat menarik mata. Pengemasannya menggunakan standing pouch warna emas dengan label “Pisang Coklat Oleh-Oleh Khas Gunung Kidul” membuat setiap konsumen tertarik untuk membelinya. Tidak hanya pisang yang dikombinasikan dengan coklat hasil olahan kakao, ada juga beberapa prodak olahan kakao lainnya, misalkan Dodol Coklat dan minuman coklat Conklang. Selain itu ada Jahe Instant yang juga merupakan hasil bumi dari wilayah tinggalnya.
                                                                                                       Sumber : Data pribadi
                                 Foto Suharti semabari membawa produk unggulan KWTnya

Seperti yang tertera dalam label produk, keselurahan makanan dan minuman instant tersebut berasal dari Kabupaten Gunung Kidul. Wilayah spesifik produksinya berasal dari Dusun Karang Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul. Siapa sangka semua produk ini diproduksi oleh KWT Melati Indah. Suhartini , menjelaskan kegiatan seperti ini baru dimualai tahun 2013 lewat binaan Dinas Pertanian dan Perkebunan DIY, Sedangkan produksinya baru dimulai pada tahun 2017 lalu. “ Awalnya sebelum 2013, KWTnya cuma menanam sayuran, baru setelah regenerasi itu fokus dipembuatan coklat”. Jelas Suhatri sembari tersenyum ceria.

Perempuan Bisa Perdikasikan Ekonomi Desa  

Ini ndak hanya dodol, minuman dan pisang coklat saja, Mbak! produknya banyak ada kuenya juga. Bahannya juga dari kakao. Kalau kuenya belum bisa tahan lama jadi yang saya bawa yang tahan lama” Suhartini menjelaskan tentang aneka prodak KWTnya. Anggota kelompok KWT berjumlah 20 orang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Kelompok ini bekerjasama dengan petani kakao yang berjumlah 50 orang dengan luasan kebun total 12 hektar. Sangat menarik, ditengah isu pemeberdayaan yang mengangkat peranan gender didalamnya, perempuan-perempuan anggota KWT ini justru secara mandiri dan sadar memperkuat ekonomi desa mereka.

                                                                                                        Sumber: Data pribadi
                                          Foto Produk Olahan Kakao KWT Melati Indah

Dari tahun 2013, pembekalan dan pendampingan dari Dinas Pertanian dan perkebunan seiring membuahkan hasil. Saat ini Kelompok KWT mampu menampung segala hasil kebun potensial di desanya. Bahkan sistem pengolahan dari barang mentah ke produk siap pasar semua dilakukan ibu-ibu KWT Melati Indah. Untuk produksi olahan kakao, mereka menampung biji kakao basah dari petani, memfermentasi dan melakukan pengolahan menjadi produk siap konsumsi.

Secara sistematis mereka juga mengontrol jadwal pemangkasan pada pohon kakao. Setiap hari Jum’at petani kakao memangkas ranting pohon kakaonya, hari Sabtu para petani menjual biji basah ke KWT untuk di fermentasi dan hari Minggu adalah hari pemasaran produk. Bagi mereka yang utama adalah memberdayakan masyarakat dan menaikan ekonomi dusun, sehingga pemenuhan bahan baku diambil seluruhnya dari wilayah Dusun Karang. Mereka akan mengambil bahan baku dari luar jika bahan baku dari dalam dusun tidak mencukupi.“Kalau ngambil bahan baku di dalam dusun itukan membantu petani, Mbak! Jadi mereka ndak jual kemana-mana. Harganya juga sudah pasti. Kita itu kalau beli kakao mesti menawarkan kok Mbak! ini mau diambil uang atau ndak? kalau misal ndak bisasnya itu masuk tabungan dan bisa dikembangkan untuk simpan pinjam anggota” jelasnya, menceritakan sistematika kerja kelompok KWTnya.

Implementsi Industri 4.0 pada Kegiatan KWT Melati Indah

Dari isu gender mengubah ekonomi desa, dari ranah domestik rumah tangga mereka berubah menjadi laskar pembawa kesejahteraan desa. Ekonomi hulu ke hilir, dari petani hingga ke konsumen keseluruhan digagas oleh 20 pasang tangan ibu-ibu rumah tangga yang kreatif. Kegiatan ini sama seperti harapan implementasi program Industri 4.0.

                                                                                               Sumber : Data Kemenperin
                                            Bagan Strategi untuk Makanan dan Minuman

Dalam empat elemen produk food and baverage yang diusung, KWT Melati Indah telah mewakili keseluruhan elemen. Highly Produktive agricultural and predictable yield diwujudkan dengan mensinergikan pola pemangkasan dan pemanenan. Strong SME support along the value chain diwujudkan dengan standart fermentasi dan pengolahan kakao dalam prodak olahan siap makan. Leading packaged food producer diwujudkan dengan pengemasan prodak yang sangat menarik dengan kemasan standing pouch dan label. Regional Food and beverage export hub diwujudkan dengan aktif mengikuti pameran dan ekpo produk sebagai usaha dari pemanfaatan akses domestik.

Titik prestasi mereka tidak sampai disisni. Mereka masih ingin terus maju, lewat pendampingan berbagai pihak diyakini menjadikan sumberdaya manusia mereka lebih berkualitas. “ Sampai sekarang kami masih didampingi, Mbak! kalau dulu pelatihan sekarang pameran seperti Ekspo Istimewa ini. Sementara ini produknya sudah menyebar di toko-toko oleh-oleh se-Gunung Kidul, insyaallah setelah ekspo ini kami mau nitip di pusat oleh-oleh yang ada di Kota Jogja” pungkasnya sebagai penutup perbinjangan saya dengannya.

Usaha yang menarik dan menginspirasi ini membuat saya sangat apresiatif pada  event ekspo yang digelar dari tanggal 14-16 Februari 2019 itu. Semangat menginspirasi berjumpa dengan perwkilan KWT Melati Indah menguatkan bahwa perempuan bisa menjadi agen of change bagi ranah domestik di sekitarnya. Nyala api semangat dari perempuan-perempuan kreatif  Dusun Karang Desa Ngalan Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul.  


Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me