Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

30 Juli 2016

Lokal dalam sensasi Global : Festival Budaya Kampung Tjelaket

          Seringkali penulis menemukan argument yang menyatakan "kematian budaya lokal" atau "matinya budaya lokal" atau juga beberapa artikel yang "menyatakan melemahnya budaya lokal" sebenarnya penulispun juga merasakan begitu pada awalnya modernisasi dan globalisasi yang melanda Indonesia akhir-akhir ini sering mengalihkan fokus generasi muda ke ranah budaya kekinian. Upload medsos, foto selfi, ngetrip selfi, pornografi, bahkan hingga faham seksualitas yang meninggi dan tidak pada tempatnya. Mereka kaum muda seringkali berkomentar seenak udelnya saja di media sosial tanpa tahu sejarah, esensi dan pertanggung jawaban dari komentar yang mereka unggah. Belum lagi paham Islam radikal membawa pengaruh besar bagi kaum muda yang seringkali mencemooh budaya lokal. 
          budaya lokal terus menerus tergeser membuat seoalah dia segan bernafas. Kalau kata "orang Mati segan hidup tak mau", nah lo.. jadi bingung. Namun, prediksi ini meleset jauh kenapa? karena buktinya semakin global kita justru semakin dicari kebudayaan lokal kita. Efek ini ditimbulkan setelah pasar bebas muncul sebagai tempat pertukaran ekonomi dimana object ekonomi ini memanfaatkan komunitas masyarakat dalam lingkup luas. Dari mulai AFTA hingga CAFTA semua menjadi satu jaringan komunitas perputaran dan pertambahan modal lintas Asia Tenggara dan Asia Tenggara-Cina. Fungsinya, agar bisa bersaing baik dalam sumberdaya manusia, sumber daya budaya dan sumber daya alam di ranah Asia Tenggara. Sehingga, dibentuk lah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC (Asean Economic Comunity). Lah terus kenapa lis- penulis??? isu ini awalnya terlihat biasa-biasa saja di permukaan, namun berbeda di dalamnya penguatan budaya lokal menciptakan beregam variasi pola di masyarakat. Dibeberapa kelompok masyarakat perkotaan mereka bahkan telah siap mengumangdangkan identitas budaya mereka agar mampu bersaing di ranah global. Yaa... meskipun kekuatan publikasi nya masih minim, tapi itulah yang nanti akan berproses dengan sendirinya. 
          Contoh dari aktifitas penguatan budaya ini dapat dilihat dari Festival Budaya Kampung Tjelaket. Tjelaket sendiri merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang berada di Kota Malang. Sebenarnya namanya adalah Kelurahan Rampal-Celaket dan tidak ditulis menggunakan 'Tj'. Huruf ejaan lama tersebut sebenarnya hanya digunakan sebagai brand karena budaya mengenal sejarah jadi harus 'jadul' biar kerasa "Tempoe Doloe' mungkin begitu. Tapi, ini hanya opini penulis saja lo...jadi tidak memiliki akurasi data yang cukup kuat. Kampung Budaya Tjelaket sebenarnya mengakomodir budaya lokal kota Malang dan menampilkannya dalam bentuk festival lokal. Menurut masyarakat disana, festival budaya sudah sering diadakan. Festival yang awalnya (2010) bernama Rampal Celaket Bersyukur ini akan menciptakan wahana pembelajaran akan pentingnya menjaga ketahanan budaya nusantara (sumber: http://kelrampalcelaket.malangkota.go.id/2016/07/21/fesstival-kampoeng-tjelaket/). Kampung Budaya Tjelaket ini diadakan 23-24 Juli 2016 dengan agenda pementasan budaya yang cukup padat dari mulai atraksi bantengan, talk show budaya, pasar rakyat hingga petas puisi lokal. kesadaran budaya lokal sebagai warisan nenek moyang dirasa menjadi satu modal untuk survive di ranah global. Menjadi untuk ditelaah bahwa gambaran mengenai kuatnya budaya lokal sebelumnya telah diramalkan oleh futurologi Naisbitt menjelaskan bahwa :
semakin kita menjadi universal, maka tindakan kita semakin menjadi kesukuan atau lebih berorientasi ‘kesukuan’ dan berpikir secara lokal, namun bertindak global” (Surahman, 2013, hlm. 32)
Referensi
Surahman, S. (2013). Dampak Globalisasi Media Terhadap Seni dan Budaya Indonesia. Jurnal Komunikasi, Volume 2, Nomor 1, Jan - April , 29 - 38.
 

- info : Liputan mengenai kampung budaya Tjelaket sedikit terbatas ya... karena keterbatasan tenaga dari penulis jadi hehehehe cuma liputan pentas seni bantengan saja, terimakasih
 Suasana Festival Kampung Budaya Tjelaket

Susunan Acara yang Padat

Gapura Masuk Area Pementasan Budaya

 Pasar Rakyat

Pertunjukan Seni Bantengan

22 Juli 2016

Situs Wisata Sejarah Episode Candi Jawi (Pasuruan)


  Mengenal sejarah berdirinya Nusantara sebenarnya sangat menyenangkan lo! Banyak hal yang disa di pelajari dari sana, pola hidup, sistem pertanian, model teknologi, seni-budaya, makanan, teknik perang pola arsitektur hingga sistem kepercayaan. Sayangnya, kegiatan mengenal sejarah masih jarang diminati. Banyak alasan untuk tidak meminati kegiatan tersebut. Bagi anak-anak zaman sekarang wahana wisata berbau teknologi tinggi lebih menyenangkan daripada wisata ke candi atau museum purbakala. Kenyataannya sih, iya penulispun juga merasa begitu. Sebenarnya ketika kita bisa membaca dan mengenal sejarah banyak keuntungan yang kita dapat, misalnya menerapkan keunggulan teknologi atau strategi dimasa lampau untuk di bawa ke masa sekarang. Namun, pernah terbersit sedikit pertanyaan dipikiran penulis kenapa ya sejarah menjadi penting? Sebenarnya sudah ada beberapa jawaban mengenai pertanyaan itu dari beberapa buku etnografi yang nyasar dan kilaf di baca penulis. Buku-buku itu merangkum jejak kejayaan masalalu dari Mataram, Majapahit, Padjajaran dan Sriwijaya. Sebuah buku (tapi lupa judul dan pengarannya) menceritakan  pengalaman dari pelayar bangsa eropa yang menginjakan kakinya pertama di Nusantara. pelayar tersebeut melihat kekayaan Jawa yang melimpah bahkan jalanpun di bangun dari emas. Begitu kayanya nusantara kala itu. Tetapi, kekayaan nusantara waktu itu justru membuat orang barat terpikat dan ingin menguasai kekayaan nusantara dengan 3G-nya (glory, gold, gospel). Dulu sistem dan tata kehidupan masyarakat Nusantara telah tertata dengan baik tidak ada KB tapi juga tidak ada ledakan penduduk semuanya terkendali berkat pola kesehatan berbasis herbal (yang sekarang sudah tenggelam).Pemikiran-pemikaran modern telah ada, dimana persepsi seksualitas tidak ada, semua dianggap sama antara perempuan dan laki-laki tidak ada yang berbusana. 
          Perubahan terbesar kehidupan nusantara mulai berubah seiring penjajah datang dan perlahan mulai memaksa penduduk untuk bertanam paksa, kerja rodi dan dibudakkan. Perbudakan inilah yang membuat maindset lapar-makan-mencuri-keyang-kecanduhan-seks bebas dll. muncul dan menjadikan indonesia seperti sekarang. Pada proses perbudakaan orang lebih berfikir perut tanpa mau berfikir tentang sejarah. 350 tahun dijajah belanda dan 3,5 tahun di jajah jepang maka totalnya adalah 353,5 tahun orang indonesia secara turun temurun hanya berfikir masalah lapar dan dan kenyang hingga menciptakan mindset 'banyak anak banyak rezeki'. 353,5 tahun masa penjajahan itulah orang Nusantara terutama indonesia kehilangan sejarahnya akibat perbudakan. Belum lagi di potong dengan siasat memerdekakan Indonesia sudah barang tentu tidak ada waktu untuk melihat sejarah secara lebih dalam kala itu. Panjangnya masa tersebut seringkali di manfaatkan kaum Eropa untuk meneliti sejarah Indonesia dengan resiko monopoli data yang cukup tinggi. kaum pribumi saat itu justru kehilangan sejarah nenek moyang mereka. Masa kehilangan sejarah selama itu masih ditambah dengan ketidaktegasahan pengelolaan situs purbakala di masa sekarang. Potensi hilangnya sejarah juga di dukung dengan ketidak mau tahuan generasi muda sekarang. 
        Seringkali penulis bertemu peneliti luar negeri, mereka beramai-ramai meneiti Indonesia mengenai situsnya dan sejarahnya untuk di boyong dan diterapkan di negara mereka lalu indonseia untung apa? pasti hanya untung referensi penelitiannya saja. kalau menurut penulis buku-buku hibah ataupun bukan hibah yang bersumber dari peneliti luarnegeri di Indonesia tidak lain hanyalah ampas yang sarinya telah diambil membuat kita tertinggal jauh dengan modernitas dan keunggulan ekonomi serta teknologi mereka. tulisan ini sebenarnya adalah bentuk keprihatinan penulis saat penulis berkunjung ke salah satu situs purbakala yakni Candi Jawi. Candi Jawi berada di darah kabupaten Pasuruan dan terletak diantara kecamatan prigen dan Pasuruan, letaknya cukup strategis yakni dipinggir jalan utama prigren-pandaan-surabaya. Area situs tersebut dijaga oleh petugas dari dinas purbakala. Tidak ada karcis masuk di sana, pengunjung hanya dikenakan banyaran seiklasnya. Menurut keterangan penjaga Candi Jawi masih aktif digunakan sebagai tempat persembanyangan, sehingga seseorang yang kesana seharusnya memiliki perilaku yang tidak asal-asalan. sejak bumingnya foto selfi situs candi ini menjadi sasaran background para selfier hingga terasa tidak enak dipandang. Sifat pengunjung yang sangat memprihatinkan adalah tidak menghornati candi ini sebagai tempat suci. Secara etika dimanapun tempat sucinya dan apapun background agama tempat suci itu, bagi perempuan yang sedang datang bulan dilarang untuk menginjak, menduduki ataupun memasuki ritus utama. namun, kebanyakan situasi dilapangan sangat berbeda.


                                                      Foto Selfi Masyarakat Di Candi Jawi

                                                              Pintu Masuk Candi Jawi

         Ulasan sejarah candi kawi menurut Negarakertagama (56:1) didirikan oleh Raja Kertanegara pada akhir pemerintahan Singasari (XIII). Candi ini difungsikan sebagai tempat Pendharmaan Raja Kertanegara, hal ini dapat diketahui dari relief candi yang menggambarkan suatu ritus Pradaksina (suatu  upacara yang berhubngan dengan penghoramatan terhadap dewa). Dari beberapa relief juga dapat dilihat tata cara upacara dan busana yang dikenakan. beberapa foto baikpenampakan tempat wisata ini gambar relief dan tata arsitektur sempat di dokumentasikan oleh penulis. Relief-relief tersebut mengambarkan betapa kehidupan zaman dahulu sebenarnya memiliki penghidupan yang adiluhung, darisini semoga keberadaan situs sejarah difungsikan secara positif bukan secara negatif. Biar bagaimanapun sejarah merupakan jati diri bangsa, keunggulan budaya yang fungsinya sebagai referensi dan pembanding untuk kemajuan Indonesia.
Semoga tulisan ini bermanfaat pagi pembaca, Terimakasih.

                                                                Relief samping candi

                                                               Kompleks Candi Jawi

                                                          Komplek Depan Candi Jawi
                                                                                                                                Salam,
                                                                                                                                penulis 

18 Juli 2016

Mitos Pendakian Gunung Arjuno

JILUMOTUNGOLAS sengaja ditulis dengan angka kapital bukan karena maksud apa-apa, melainkan karena kata-kata itu adalah singkatan. Penulis mendapatkan kata-kata itu dari induk semang penulis yang berada Desa Jatiarjo. Sebenarnya  JILUMOTUNGOLAS adalah singkatan dari siji, telu, limo, pitu, songo, sewelas dan seterusnya angka ganjil dalam bahasa Jawa. Angka-angka tersebut ditandai karena terkait dengan mitos pendakian ke Gunung Arjuno. Menurut Bapak semang penulis " kalau mau menjadaki ke Arjuno jumlahe jangan ganjil. Bahaya bisa terjadi apa-apa sudah sering kejadian". Selain itu, bapak juga bercerita kalau beberapa bulan yang lalu ada pendakian dari sekelompok anak Surabaya kalau penulis tidak salah ingat. sekelompok pendaki itu naik ke Arjuno dengan jumlah sembilan orang. Mereka mendaki dengan selamat tapi pulangnya tidak selamat. Dua diantaranya meninggal akibat tertinggal dari rombongan lalu tersesat dan kemudian ditemukan meninggal akibat kedinginan dan kelelahan. kata bapak semang penulis " jangankan kok orang luar, orang Jatiarjo saja sering tersesesat". Kiranya begitulah kepercayaan magis masih menguat di Gunung Arjuno menurut kalangan dan cara pandang masyarakat Jatiarjo. Daerah lain selain di kawasan utama Arjuno daerah ringgit juga di tandai sebagai area wingit apalagi kata anak bapak semang penulis disana ada makam dan juga penunggunya. Entah makam siapa karena penulis tidak mengorek informasi lebih dalam. 
          Pada umumnya gunung telah menjadi tempat perlindungan dan penghidupan bagi masyarakat Jawa. itupun, telah dijabarkan pada tulisan atau buku Lucas Sasongko dengan judul Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaann terbitan Grasindo 2010. Gunung telah menjadi satu simbol ayah dan laut telah menjadi simbol ibu kiranya begitulah penggambaran kosmologi Jawa. Lebih menarik lagi penggembaran kosmologi Jawa itu dipakai oleh kerajaan Mataram awal mulaya memberi penguatan politik dari sisi penguasaan Jawa lewat segi mistik. Mengenai "kosmologi", kosmologi sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan asal muasal penciptaan alam semesta. Pengertian kosmologi sendiri dapat dilihat pada buku Fabian H. Chandra dengan judul Kosmologi studi struktur dan asal mula alam semesta. Pada legenda Jawa dan cerita rakyat yang berkembang, awalnya pulau jawa itu adalah pulau nobaden karena mengambar tanpa ada pemberat. Waktu itu itu dewa melihat dari atas langit dan kemudian prihatin melihat pulau yang mengambang itu. Akhirnya dewa berinisiatif untuk membotong sebagian pucak Himalaya di India untuk dibayai ke Pulau Jawa. Awalnya sebelat Timur yang diberi irisan Gunung Himalaya tersebut tapi jomplang sebelah atau timpang sebelah akibatnya Jawa sempat miring dan akhirnya gunung tersebut diris lagi dan dibagi sama rata. Gara-gara moitologi tersebut, pada waktu kecil dulu penulis sepat berimagenasi terbang ke langit untuk bertemu dewa. Banyangan lain adalah merasakan hidup diatas pulau yang berpindah. Lucu tapi ya hanya imagenasi anak-anak harap dimaklumi. Kaiatan mitologi tersebut masih kuat membuat gunung memiliki kedudukan skaral terlebih jika dikaitkan dengan Pantai Selatan. Sakaralitas gunung tersebut melahirkan suatu tradisi dalam bentuk ritual yang selalu dilakukan masyarakat Jawa seperti juga masyarakat Jatiarjo. Betapapun liarnya alam, masyarakat tetap memiliki cara agar alam bisa membawa keselamatan bagi manusia yang hidup di dalam ekologinya (Gunung).

17 Juli 2016

Aksobya Arca Blogspot

          Aksobya Acra merupakan blog baru yang mengusung tulisan tentang ragam budaya langka dan jarang dipertunjukan ataupun budaya-budaya lokal yang belum terpublikasi dan sudah terpublikasi tetapi masih jarang. Selain tulisan mengenai budaya, penulis juga akan mempublikasikan beberapa tulisan sastra baik puisi, cerita ataupun foklore rakyat di beberapa wilayah. Nama Aksobya diambil dari nama sebuah arca yang hilang pada saat halilintar menyambar pada tahun saka 1253. Arca tersebut berada di Candi Jawi Pasuruan. Sedangkan, nama Acra diambil dari bahasa walikan dari Arca. Konten bahasa walikan ditersebut karena penulis merupakan mahasiswa asli Jawa Timur dan mendapat gelar Sarjananya di Kota Malang. Bahasa walikan yang lekat dengan arek Malang menguatkan identitas penulis sebagai arek Malang walaupun statusnya arek Malang swasta (karena bukan lahir di Malang).  
          Publikasi tulisan akan dishare secara berkala, yakni seminggu dua kali pada hari Senin dan Jum'at. sebenarnya banyak referensi yang harus dishare oleh penulis sebagai informasi budaya. Akan tetapi, kecanduhan media sosial membuat penulis baru memulai pembuatan blog pada  17-07-2016. Sayangnya tanggal cantik 17-07-2017 baru tahun depan tapi itu tak masalah. Masalah yang sebenernya serius adalah hilangnya wawasan kebudayaan lokal para generasi muda sekarang. Seringkali anak-anak jaman sekarang lebih menguasai gadgetnya dibanding dengan lingkungannya. Dulu semasa kecil penulis sering bermain dengan kakaknya tanpa mengeluarkan sepeser uang. Mereka sering memanfaatkan apa yang ada, misalnya batang daun pisang untuk pistol kretekan (bedel kretek), bambu bekas untuk layangan, gobak sodor, gobak kitiran dan lain sebagainya. Darisinilah latar belakang pembuatan blog ini di mulai. Tapi, jika dipikir-pikir pemanfaatan alam menjadi kunci utama kreatifitas dan pengembangan bakat dan tentunya hal-hal semacam itu bisa manjadi tabungan pelatihan untuk menciptakan kreativitas dan inovasi bukan mengkonsumsi kreativitas dan inovasi di masa yang akan datang. Agaknya tulisan ini mulai terlalu berat, maka dari pada si penulis menulis pembahasan yang lebih berat lagi, maka cukup sekian tulisan pembuka ini. selanjutnya posting kembali akan di rilis pada hari Senin. 

                                                                      ------see you--------

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me