Sebuah kisah cinta terekam dari Petilasan Mahapatih
Gajah Mada di Desa Lambang Kuning. Keberadaan Gajah Mada di Desa tersebut
dilatarbelakangi kisah cinta antara Hayam Wuruk dan Sri Dyah Pitaloka Putri
Cantik dari Kerajaan Padjajaran. Raja Hayam Wuruk bermasuk ingin melamar Sri
Dyah Pitaloka untuk dipersunting olehnya dan mengutus Patih Gajah Mada dalam
proses lamaran tersebut. Mahapatih Gajah Mada menolak rencana itu, baginya dia
telah berjanji pada sumpah Palapanya bahwasanya semua kerajaan termasuk
padjajaran harus takluk dibawah panji-panji Majapahit. Putri Padjajaran
menurutnya harus menjadi putri sasrahan atau putri taklukan dan bukan
dilamar seperti yang dimaksud Raja Hayam Wuruk.
Foto Papan Informasi Kisah Cinta Maha Patih Gajah Mada
Terjadi pertempuran antara Majapahit dan Padjajaran
yang mengakibatkan gugurnya Raja Padjajaran beserta Putrinya Sri Dyah Pitaloka.
Mendengar berita tersebut Raja Hayam Wuruk murka kepada Mahapatih Gajah Mada. Untuk
menghindari konflik saudara di kerajaan Majapahit, sang patih pun mengalah
meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri jauh dari pusat kerajaan dengan
membawa sekelompok pasukan inti kerajaan yang bernama Bayangkara.
Foto Pagar Makam Roro Kuning
Tempat pengasingan sang Mahapatih berada di sebelah
barat Sungai Brantas tepatnya diwilayah perdikan Karang Kletak. Wilayah ini
sebelumnya telah di babat oleh Senopati Majapahit yakni Iro Robo. Sebelum Patih
Gajah Mada datang, Iro Robo telah menyiapkan sebuah benteng yang terbuat dari
batu bata merah serta sebuah rumah yang terbuat dari Gladak Kayu Jati di Puthuk
Boto yaitu 300 meter dari lokasi situs Petilasan Gajah Mada. Rumah Gladak Kayu
Jati tersebut telah lama dihuni oleh Ratu Niang atau Roro Kuning atau Rondo
Kuning yang telah dijaga Senopati Iro Boro beserta puluhan pasukannnya.
Foto Makam Roro Kuning
Setelah tiba di Karang Kletak, Patih Gajah Mada
menikah dengan Roro Kuning dan hidup sederhana menjadi seorang petani dan
beternak untuk menghilangkan jati dirinya. Dia juga dikenal dengan panggilan
Mbah Budho. Dengan nama panggilan tersebut diharapkan prejurit pimpinan Hayam
Wuruk kesulitan menemukannya. Dalam persembunyiannya Mbah Budho melakukan
pertapaan atau semedi kepada Sang Hyang Widhi
untuk menyempurnakan hidupnya. Beberapa karya beliau hasilkan seperti
Kitab Sutasoma, Negara Kertagama dan Kutara Saranawa. Kitab Negara Kertagama
menuat kalimat “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangwara” yang artinya
Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang bermuka dua. Kata Bhineka
Tunggal Ika sekarang ini menjadi simbol negara Indonesia yang tertulis dalam
pita yang di cengkram burung garuda.
Kisah cinta sang Patih kemudian dipisahkan oleh
maut, Nyai Roro Kuning meninggal dan dikebumikan di Desa Lambang Kuning yang
saat ini menjadi situs petilasan. Makam utama yang berpagar dinyakini adalah
Makan Nyai Roro Kuning yang didekatnya terdapat batu datar tempat semedi sang
Mahapatih. Mahapatih pun memutuskan pergi dari desa tersebut dan membawa
pasuakannya. Beberapa literatur menjelaskan Patih Gajah Mada pergi ke Bali dan menikah dengan anak raja, namun informasi ini silakan dicross cek sendiri. Berapa keyakinan masyarakat, Patih Gajah Mada Moksa atau hilang di suatu tempat yang diyakini ada di Trenggalek yakni Gua Gajah Mada.
Foto Makam Roro Kuning dari sisi Barat
Seluruh sumber cerita ini merupakan sanduran dari
informasi di papan informasi yang kata-katanya mulai meluntur terkena hujan dan
panas. Bagi yang tertarik dilakan datang langsung ke Desa Lambang Kuning di
Kertosono Nganjuk ya…!








0 comments:
Posting Komentar