Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

19 September 2019

Melepas Tawa Senjan di Cafe Embung Turi-Turi

Ada yang tau Embung? Atau pernah mengunjungi Embung?

Embung merupakan danau kecil atau waduk bersekala kecil yang dibuat dengan fungsi mencukupi kebutuhan air saat kemarau. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kurang lebih 49 embung tersebar di empat kabupaten. Selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air, embung juga digunakan sebagai objek rekreasi dan pariwisata. Saya tidak akan mengulas banyak tentang fungsi dan definisi atau struktur bangunan embung.

Perjalanan saya kali ini, singgah di salah satu tempat tongkrongan yang berada di pinggir Embung Turi, Sleman. Cafe ini namanya Turi-Turi Coffee. Bagi kamu yang ingin melepas penat, kafe ini bisa menjadi solusinya.

Berada di pinggir Embung, membuat Cafe Turi-Turi punya suasana yang khas. Pemandangan yang disuguhi dengan berbagai wahana pendukung embung membuat suasana hati menjadi gembira.  Beruntungnya saya, saat berkunjung ke Embung ini, suasana sendang senja. Saat itu, cafe tidak terlalu rame, sehingga menciptakan suasana yang Romantis.






Interior cafe ini juga cukup menarik hati. Di depan cafe tepatnya di pinggir Embung berjajar tempat duduk dan kursi. Tempat ini sangat strategis untuk menikmati senja bersama kolega atau teman akrab atau juga teman terkasih. Jika tidak kebagian tempat duduk dipinggiran Embung, spot lain yang tidak kalah bagus adalah spot depan Cafe atau depan dari spot duduk pinggiran Embung. Spot ini dibuat dengan interior mirip di Kafe-Kafe pinggir laut dengan hiasan ban orange bergantung di bawah mejanya. Disebelahnya juga terdapat manik-manik laut seperti jangkar dan dua keran kembar.

Konsep berbeda guna disuguhkan saat saya masuk ke teras Cafe. Interiornya lebih bernuansa tempo dulu dengan kursi kayu kombinasi ayaman dan meja bulat. Semakin ke dalam, interior yang disuguhkan lebih ke kombinasi interior Jawa dan barang-barang antik seperti cendela jaman dulu dan mesin jahit Singer. Sangat cocok untuk mereka yang hobby bersua foto.



Saat saya datang, mayoritas pembelian adalah mereka yang ingin melepas senja dengan teman-teman nya atau orang terkasih. Mereka memilih tempat strategis mereka. Beberapa orang lebih memilih bersua foto dengan latar belakang pilihan masing-masing. Saya yang saat itu datang dengan suami saya, memilih duduk di kursi kayu kombinasi anyaman dengan meja bulat. Kami bernostalgia dengan masa lalu masing-masing diatas kursi kayu kombinasi anyaman.

Menu yang ditawarkan pun cukup beragam, dari olahan lokal hingga minuman mancanegara semua ada. Aliran kopi mereka adalah Americano dengan jenis Arabika yang ditawarkan saat  itu ada Kerinci, Papua, Manak, Gayo, Toraja dan Wonosobo. Sedangkan robusta adalah Lampung dan Wonosobo. Saya memesan alternatif selain kopi, karena ingin mencicipi menu lain selain kopi. Jadilah kami memesan Taro Velvet,Hot Chocolate Dan Lumpia. Seperti kebiasaan, kafe-kafe pada umumnya, setelah pesanan di catat, pembeli langsung membayar nya. Saya mendapatkan pesan dari kasir, dia mengatakan untuk mengambil pesanannya sendiri sesuai nomer meja yang saat itu diberikan nya. Cukup unik tapi mengejutkan, dari beberapa kafe yang saya singgahi kafe inilah yang menyilakan pembeli mengambil sendiri pesanannya di meja bar.



Sekitar lima belas menit, ada panggilan nomor meja dan saya tahu itu meja saya. Saya pun menghampiri meja bar tempat saya memesan tadi sambil membawa nomor meja. Segelas Taro Velvet dengan Hot Chocolate dan dua lumpia dipiring, saya bawa dengan nampan.  Uniknya Taro Velvet dan Hot Chocolate dialasi kayu dengan bentuk yang abstrak, berukir Turi-Turi Coffee.

Saya dan Suami memberikan testimoni pertama setelah pesanan itu mendarat dengan selamat dimeja kami. Saat menyeruput segelas Taro Velvet dan Hot Chocolate pesanan masing-masing, kami segera berkomentar, rasa Taro Velvet saya benar-benar terasa kental umbi Ungu dan Hot Chocolate milik Suami, rasanya lebih soft dengan rasa manis menyeruap perlahan. Tuntas satu seruputan perdana, kami menikmati lumpia dua buah dalam satu piring. Rasanya sangat Semarangan sekali, isi lumpia ini rebung dengan perpaduan ayam dan wortel, mengingatkan saya pada lumpia khas Semarang. Kami masih menikmati senja dengan segala nostalgia barang-barang tempo dulu disana. Senja yang berganti gelap membuat kami harus pulang. Kafe itu masih ramai dengan pengunjung berdatangan terus menerus.




Kamu yang tertarik nostalgia dengan barang-barang lama atau sekedar menikmati syahdunya senja dipinggir Embung, Turi-Turi Coffee bisa jadi salah satu alternatifnya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!!!

15 September 2019

Kolaborasi Dua Generasi dalam Industri 4.0 dalam sebungkus Jamur Krispi

          Jamur Tiram, Siapa yang tidak tahu jamur putih nan enak itu? Berbagai olahan seperti Sop, Tumis dan krispi akan lebih lezat ketika jamur ini menjadi bahan utamanya. Jalan-jalan Sabtu pagi di keramaian Museum Gunung Merapi, saya menemukan olahan jamur yang kemasannya sangat enak dipadang. Olahan tersebut adalah krispi Jamur Tiram. Camilan kaya gizi ini hanya ada satu-satunya di Gelar Prodak UKMK yang diselenggarakan di pelataran Museum Gunung Merapi. Stand camilan kaya gizi ini, milik Bu Tari. Lebih menarik perhatian lagi, ketika salah satu produk jamur krispinya sedang promo.

         Ketika saya mendekati stand tersebut,  dengan ramah saya ditawari untuk mencicipi berbagai rasa dari Jamur Krispi yang ada. Sayapun tak membuang kesempatan tersebut, saya segera mencicipi krispi jamur rasa original. Rasa krispi jamur ini sungguh tidak menghilangkan rasa asli dari jamur itu sendiri. Ditambah renyahnya tepung membuat saya tak mau berhenti mengunyah. Rasa original tak juga mengobati rasa penasaran, saya kembali mencicipi krispi jamur rasa pedas level satu. Dari gigitan pertama rasa renyah tetap saya dapatkan dengan perpaduan rasa gurih berbalut pedas yang pelan-pelan muncul menyelimuti rasa asli jamur. Meski tidak terlalu pedas, level satu cukup cocok untuk mereka yang tidak terlalu suka pedas. Rasa penasaran masih juga tak kunjung terobati, saya pun merasakan tester jamur krispi pedas level 2 dan 3. Dua level ini cukup membuat saya melek, karena tingkatan rasa pedasnya lebih mantap dan terasa dari level satu. Untuk kalangan muda yang suka dengan tantangan pedas, level dua dan tiga adalah pilihan yang tepat.

Foto Berburu Prodak Sehi Rame-Rame


Stand Bu Tari Rame Pembeli

            Terpikat dengan rasa jamur krispi yang ditawarkan, membawa saya pada obrolan ringan terkait sejarah dari produk Jamur Krispi Bu tari. Pada stand Bu Tari terdapat beberapa produk snack ringan, salah satunya jamur krispi Bu Tari Original dan Balado, Jamur Krispi Sehi empat rasa dan manisan salak kering. Dulunya produk Bu Tari hanya jamur tiram biasa yang dibudidayakan lewat Kumbung Jamur di sebelah rumahnya pada tahun 2012. Jamur tiram mentah dijual di pasar dan penjual sayuran di wilayah Purwobinangun atau juga biasanya diambil penjual ke Rumah Bu Tari.

“ Waktu itu saya belum punya ide mbak, mau diapakannya jamur ini. Saya baru mulai mengolah sendiri itu tahun 2014, saya olah krispi. Saya punya ide mengolah Jamur Krispi itu Karena mengisi waktu luang. Daripada bingung habis panen diam aja mending ngolah jamur.” Terang Bu Tari
         Jamur Krispi yang telah diolah dikemas dalam wadah plastik snack tebal dan di sealer. Produk ini dititipkan ke beberapa toko dan mini market sekitar Purwobinangun. Rasa yang ditawarkan dari jamur krispy Bu Tari waktu itu masih jamur krispi rasa original dan balado. Label kemasannya pun masih sederhana, dengan plastik dan stiker produk diatas kemasan dan diplastik depan kemasan. Satu kemasan di jual dengan harga Rp. 13.000,- / 100 gram. Tingkat keuntungannya pun lebih banyak dari pada dijual dalam produk mentah. Selain itu, Bu Tari juga membuat manisan salak dengan harga Rp. 16.000,-/100gram. Manisan salak ini menjadi produk olahan lain yang peminatnya juga tak kalah banyak dari prodak jamur krispinya.

Kolaborasi Berdaya Jual Tinggi

        Seiring waktu Bu Tari terus berinovasi pada produk krispi jamurnya. Berbagai saran konsumen, ilmu-ilmu dari pelatihan PLUT-UKMK di Yogyakarta dan rajin mengikuti pameran, akhirnya Produk Jamur Sehi pun tercetus. Bu Tari tidak sendiri, dia berkolaborasi dengan anak laki-lakinya yang baru lulus dari Jurusan akuntansi STIEYKPN untuk menciptakan terobosan varian dan kemasan baru. Bu Tari meyakini kalau generasi saat ini lebih memiliki koneksi yang luas terlebih lagi di dunia sosial media.

          " Kalau Sehi ini anak saya Mbak, kebetulan baru lulus kuliah terus saya ajak. dia yang tau                     online sama yang buat labelnya itu ya dia" Jelas Bu Tari 

             Kolaborasi dua generasi antara ibu dan anak, melahirkan produk Jamur Krispy Sehi, dengan varian empat rasa yakni rasa original, Pedas level 1, level 2 dan  level 3. Kemasannya pun menggunakan standing pouch transparan satu sisi dan stiker tiga perempat sisi depan berwarna kuning. Inovasi ini baru mulai dikenalkan pada gelaran prodak UKMK yang diselenggarkan oleh PLUT-UKMK di Yogyakarta  di pelataran museum Gunung Merapi 13-15 September ini. Nama Sehi sendiri adalah singkatan dari nama panggilan ke empat anak Bu Tari yakni  Sita, Elin, Hima dan Ida. Dari kemasan baru ini, pasarpun menyambut baik. Banyak konsumen yang mulai tertarik membeli produk Jamur Krispi Sehi. Apalagi dalam peluncuran perdananya produk Jamur Krispi Sehi di jual dengan harga promo Rp.10.000,-/ Rp. 75 gram dari harga Rp. 13.000/75 gram. 

Sehi dan Produk Kripik Jamur dan Manisan Salak Bu Tari
         Berkolaborasi dengan kaum muda dirasakan Bu Tari mampu meningkatkan pendapatan. Terlebih lagi Hima, anak laki-laki Bu Tari, menggunakan model Industri 4.0, dimana lebih memanfaatkan jaringan online seperti Tokopedia, Bukalapak dan Instagram. Kolaborasi ini, membuktikan bahwa SDM unggul ternyata tidak datang dari yang muda saja. Generasi tua pun, jika didampingi generasi muda dan berkolaborasi mampu memicu meningkatkan ekonomi secara signifikan. Dari harga produk Jamur Kripi Bu Tari Rp. 13.000/100gram kini Jamur Krispi Sehi Rp. 13.000/75gram. Meski inovasi produk Kripik Jamur Sehi sudah mulai banyak diminati, kedepan kemasan plastik dengan merk Bu Tari tertap di produksi. Produk tersebut nantinya ditujukan untuk kalangan rumah tangga dan pasar lokal, sedangkan Kripik Jamur Sehi pada pasar kaula muda melenial dan pasar online. Pola kolaborasi dua generasi ini bisa menjadi pioner dalam dunia UKMK, apalagi wujud pengembangan ekonominya berbasis keluarga. Jadi, jika ada banyak Bu Tari dan Hima lainnya, tentu Indonesia akan lebih mapan dibidang UKMK.

  
Penasaran dengan produk Jamur Sehi dan Jamur Krispi Bu Tari? Langsung aja cek Instagram @Jamur.krispi.butari atau langsung cek di marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak. Jangan lupa kunjungi website www.diskopumkm.jogjaprov.go.id dan www.plutjogja.com  



10 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Kisah Cinta dan Kesetian Sang Mahapatih Gajah Mada (Edisi Kedua)


    Sebuah kisah cinta terekam dari Petilasan Mahapatih Gajah Mada di Desa Lambang Kuning. Keberadaan Gajah Mada di Desa tersebut dilatarbelakangi kisah cinta antara Hayam Wuruk dan Sri Dyah Pitaloka Putri Cantik dari Kerajaan Padjajaran. Raja Hayam Wuruk bermasuk ingin melamar Sri Dyah Pitaloka untuk dipersunting olehnya dan mengutus Patih Gajah Mada dalam proses lamaran tersebut. Mahapatih Gajah Mada menolak rencana itu, baginya dia telah berjanji pada sumpah Palapanya bahwasanya semua kerajaan termasuk padjajaran harus takluk dibawah panji-panji Majapahit. Putri Padjajaran menurutnya harus menjadi putri sasrahan atau putri taklukan dan bukan dilamar seperti yang dimaksud Raja Hayam Wuruk.

Foto Papan Informasi Kisah Cinta Maha Patih Gajah Mada 

    Terjadi pertempuran antara Majapahit dan Padjajaran yang mengakibatkan gugurnya Raja Padjajaran beserta Putrinya Sri Dyah Pitaloka. Mendengar berita tersebut Raja Hayam Wuruk murka  kepada Mahapatih Gajah Mada. Untuk menghindari konflik saudara di kerajaan Majapahit, sang patih pun mengalah meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri jauh dari pusat kerajaan dengan membawa sekelompok pasukan inti kerajaan yang bernama Bayangkara.

Foto Pagar Makam Roro Kuning 

       Tempat pengasingan sang Mahapatih berada di sebelah barat Sungai Brantas tepatnya diwilayah perdikan Karang Kletak. Wilayah ini sebelumnya telah di babat oleh Senopati Majapahit yakni Iro Robo. Sebelum Patih Gajah Mada datang, Iro Robo telah menyiapkan sebuah benteng yang terbuat dari batu bata merah serta sebuah rumah yang terbuat dari Gladak Kayu Jati di Puthuk Boto yaitu 300 meter dari lokasi situs Petilasan Gajah Mada. Rumah Gladak Kayu Jati tersebut telah lama dihuni oleh Ratu Niang atau Roro Kuning atau Rondo Kuning yang telah dijaga Senopati Iro Boro beserta puluhan pasukannnya.

Foto Makam Roro Kuning 

      Setelah tiba di Karang Kletak, Patih Gajah Mada menikah dengan Roro Kuning dan hidup sederhana menjadi seorang petani dan beternak untuk menghilangkan jati dirinya. Dia juga dikenal dengan panggilan Mbah Budho. Dengan nama panggilan tersebut diharapkan prejurit pimpinan Hayam Wuruk kesulitan menemukannya. Dalam persembunyiannya Mbah Budho melakukan pertapaan atau semedi kepada Sang Hyang Widhi  untuk menyempurnakan hidupnya. Beberapa karya beliau hasilkan seperti Kitab Sutasoma, Negara Kertagama dan Kutara Saranawa. Kitab Negara Kertagama menuat kalimat “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangwara” yang artinya Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang bermuka dua. Kata Bhineka Tunggal Ika sekarang ini menjadi simbol negara Indonesia yang tertulis dalam pita yang di cengkram burung garuda.

       Kisah cinta sang Patih kemudian dipisahkan oleh maut, Nyai Roro Kuning meninggal dan dikebumikan di Desa Lambang Kuning yang saat ini menjadi situs petilasan. Makam utama yang berpagar dinyakini adalah Makan Nyai Roro Kuning yang didekatnya terdapat batu datar tempat semedi sang Mahapatih. Mahapatih pun memutuskan pergi dari desa tersebut dan membawa pasuakannya. Beberapa literatur menjelaskan Patih Gajah Mada pergi ke Bali dan menikah dengan anak raja, namun informasi ini silakan dicross cek sendiri. Berapa keyakinan masyarakat, Patih Gajah Mada Moksa atau hilang di suatu tempat yang diyakini ada di Trenggalek yakni Gua Gajah Mada.

        Foto Makam Roro Kuning dari sisi Barat 

        Seluruh sumber cerita ini merupakan sanduran dari informasi di papan informasi yang kata-katanya mulai meluntur terkena hujan dan panas. Bagi yang tertarik dilakan datang langsung ke Desa Lambang Kuning di Kertosono Nganjuk ya…!

01 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Situs Sejarah yang Kaya Cerita (Edisi Pertama)


     Siapa yang tak mengetahui nama besar Patih Gajah Mada. Beliau adalah Mahapatih Kerajaan Majapahit yang sudah terkenal di seluruh nusantara. Sumpahnya yang di namai sumpah Palapa menjadi salah satu ciri khas dalam perpolitikannya. Bunyi sumpah itu tidak lain adalah Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa atau dalam Bahasa Indonesia Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa. Sumpah itu tidak lain adalah ambisinya untuk menyatukan seluruh wilayah menjadi kenegaraan Nusantara atau Nuswantoro dengan Majapahit sebagai pusat pemerintahannya. Bagaimana kisah hidup Maha Patih ini?

     Berbagai penelitian dari ahli sejarah dan arkeologi yang mencoba untuk mencari jejak Sang Mahapatih Gajah Mada, namun sampai sekarang belum juga menemukan sebuah kepastian siapa sebenarnya Gajahmada. Berjalanan ekspedisi saya kali ini menemukan sebuah situs mengenai jejak sang mahapatih  yang ternyata tidak jauh dari rumah tinggal saya. Situs ini bernama Petilasan Agung Mahapatih Gajah Mada yang terletak di Desa Lambang Kuning, Kecamatan Kertosono Nganjuk. Terdapat banyak pepohonan, namun yang menyita perhatian adalah dua pohon beringin besar disana dan empat makam yang diselimuti kain pada batu pusaranya. Satu makam mendapat kekhususan, dari tata letaknya dia berada diantara dua pohon Beringin dan berpagar kuning rapat yang mengelilingi makam dan dua pohon beringin tersebut. Tiga makam lainya berada diluar pagar dan dibatasi dengan kain kuning dan rerimbunan pepohonan.

Foto Bangunan Utama Makam Roro Kuning 

      Menurut keterangan warga sekitar, keadaan situs ini dulunya tidak terjamah manusia. Masyarakat hanya tau disitu terdapat makam kramat dan merupakan petilasan Mahapatih Gajah Mada, namun masyarakat sekitar jarang mendatangi lokasi tersebut. Wilayah tersebut dulunya dikenal sebagai wilayah yang angker dan hanya orang-orang tertentu yang punya maksud dan keinginan mendatangi lokasi tersebut. Keadaanya sangat bertolak belakang dengan sekarang. Sejak dipugar  November 2008, situs ini lebih terbuka dan tidak seseram dahulu. Terlebih saat ini situs ini dikelola langsung oleh Paguyuban Petilasan Agung yang seluruh anggotanya lintas profesi dan Yayasan Kertagama Jakarta. Uniknya lagi tidak ada petugas kebersihan yang berjaga. Seluruh urusan bersih membersih melibatkan pengunjung dan dilakukan secara sukarela. Barang siapa yang ingin membersihkan (menyapu dan membersihkan toilet) dipersilakan, jika tidak mau atau hanya ingin berkunjung saja juga dipersilakan.

Foto Batu Peresmian Petilasan Agung 

Foto Banner Sekertariat Paguyuban Petilasan Agung
      
       Kata Petilasan sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia bekas jejak pertapaan. Diyakini makam utama yang berada di dalam pagar adalah makam Roro Kuning Istri Sang Mahapatih Gajah Mada beserta batu tempat bertapa, sedangkan diluar pagar adalah prajuritnya yang gugur saat Mahapatih bertapa di Desa Lambang Kuning. Banyak bekas dupa disekitaran makam utama. Seperti saat lebaran idul fitri kemarin banyak nya berziarah yang menyalakan dupa dan memanjatkan dupa.



Foto Makam Prajurit 

        Terdapat warung kecil sepuluh meter di selatan makam utama. Diakhir pekan warung ini ramai kunjungan para muda-mudi dan anak-anak. Selain kantin bangunan pendopo kecil peratap segilima juga terdapat di dekat pintu masuk. Rata-rata mereka memesan makanan di warung dan membawanya ke pendopo kecil tersebut sambal bercengkrama meninkmati sejuk dan rindaknya pepohonan. Menu yang ditawarkan oleh warung tersebut cukup beragam, dari mulai mie instan goreng hingga rebus plus telu, kopi, susu, teh, minuman sigmafit (tidak sebut merk) tersedia dan siap di pesan. Tidak ada tarif untuk masuk ke situs ini.

        Ada secuplik kisah cinta yang terekam dalam teks yang tepampang di papan Informasi. Ada baiknya kisah itu dilanjut di edisi kedua ya… ! dari pada yang baca kepanjangan, mending di bikin penasaran dulu hehehe. Oke selamat membaca beberapa informasi ini.

23 Februari 2019

Jajanan Rakyat, UKM Sederhana yang Menjanjikan


Setiap orang Indonesia pasti tidak asing dengan jajanan gorengan ala rakyat. Dari mulai Bakwan, Laba-Laba, Cilur, Telur Gulung, Sempol, Tempe Mendoan dan masih banyak lagi. Makanan seperti sangat digemari di segala usia. Peminatnya yang lumayan banyak membuat omset berdagang gorengan cukup menjanjikan. Pedagang makanan seperti itu, juga sangat gampang ditemui, termasuk dalam ekspo Jogja Surganya Kuliner yang digelar di JEC.


Tidak hanya jajanan gorengan, kuliner dari level berat hingga ringan bisa dijumpai pada ekspo yang di gelar sejak tanggal 20-23 Februari 2019 ini. Selain makanan stand batik dan aneka ragam kerajinan khas Jogja dan sekitarnya dapat dijumpai dengan mudah. Menariknya sepanjang kunjungan saya ke Ekspo ini mayoritas pedagang yang menjajakan makanan pada stand kuliner adalah para perempuan, begitupun pada stan kerajinan khususnya batik.

Saya tertarik untuk melihat keseluruhan stand kuliner yang ada disana. Sepanjang mata memandang ada beberapa kuliner yang memikat saya untuk membeli. Jajanan Telur Gulung dan Sempol membuat saya kembali bernostalgia dengan masa kecil dan masa kuliah saya. Harganya pun cukup bersahabat, satu tusuk dijual dengan harga seribu dan dikemas dalam satu paket seharga lima ribu rupiah isi lima tusuk. Menariknya dengan harga jual yang relative murah, ibu-ibu penjualnya mengaku cukup untung dan menjanjikan.

Salah satu stand pertama yang saya datangi adalah stand Bu Narti. Stand jajanan rakyat ini menjual Telur Gulung, Sempol Ikan, Sempol Ayam, Bakso Pedas, Ondol-Ondol Jepang, Ceker Pedas Dan Sosis Telur. Seluruh aneka kuliner yang disajikan dihidangkan langsung ke para pembeli. Cara ini memudahkan pembeli memilih menu kesukaan mereka. Omsetnya juga cukup menjanjikan. Dengan hanya berjualan jajanan rakyat, Bu Narti dapat mengatongi pendapatan kotor hingga tiga juta rupiah.
Pola jualan, pedagang jajanan rakyat yang satu ini, juga cukup unik. Bu Narti yang ditemani iparnya saat berjualan, mengaku menjajakan dagangannya di ekspo-ekpo rakyat yang di gelar di Yogjakarta. Banyaknya even festival yang digelar, menjadi peluang bagi ibu rumah tangga ini menjajakan dagangannya langsung ke pembeli.



Saya memulai ini baru tiga tahun ok mbak. Awalnya ya lihat list di Instagram lalu di jadwal. Pas rame itu lumayan mbak bisa tiga juta kalua sepi hanya kurang dari satu juta. Itu sudah lumayan mbak namanya kita jualan ya pandai-pandai kita”. Jelas Bu Narti. Selain Bu Narti, ada juga Bu Susi yang juga menjualan penganan rakyat murah meriah. Stand Bu Susi menjual Cimol, Cireng, Sempol dan Telur Gulung. Semuanya dijual dengan harga satu paket sepuluh ribu plus dengan bonus satu tusuk sempol.


Sejak setahun terakhir Bu Susi mengatakan, dirinya bergabung dengan grup UMKM yang dibina langsung oleh Dinas Koperasi UKM DIY. Mulai 22-23 Bu Susi mendapat fasilitas stand dideretan binaan dinas tersebut. Setiap harinya Bu Susi manjajakan jualannya di Condong Catur dan Kadisoka Yogyakarta. Bu Susi juga sering menjajakan dagangannya di berbagai ekpo dan festival. Bahkan beberapa kali kulinernya masuk dan diliput beberapa koran On-line.

Kemarin Mbak! kalau pas ramai jualan kayak gini di karapan sapi Wedomartani, enam jam sudah dapat satu juta lima ratus”. Ungkap Bu Susi. Dalam menjajakan dagangannya dia ditemani oleh suaminya. Rasa dan karakter aneka makanannya juga ditemukan dari resep eksperimennya tanpa mengandalkan resep google.

Wanita Dalam Peluang Emas Kemajuan UMKM Indonesia

Dalam penelitian IFC memaparkan pada Agustus dan September 2015 lalu tercatat sebanyak 360 UKM dari 600 UKM yang terdata dimiliki oleh perempuan. Dalam hasil penelitian juga disebutkan bahwa masih banyak UKM yang dimiliki oleh perempuan yang tidak terdaftar secara formal, hal ini menghambat temu gelang antara pedagang dan perusahaan besar.

Dari dua stand jajanan rakyat yang saya temui di ekpo jogja surganya kuliner, satu pedagang tergabung dalam binaan Dinas Koperasi UKM DIY sedangkan satunya berjalan secara mandiri. Dua duanya dijalankan oleh perempuan dan memiliki omset yang cukup menguntungkan.

Seperti omset tiga juta rupiah yang di dapat oleh Bu Narti. Omset ini dapat melijit lebih tinggi lagi apabila strategi jualannya bisa dimaksimalkan. Variasinya bisa berupa jualan on-line, franchise dan pengemasan yang lebih modern. Tentu hal ini menjadi peluang yang lebih menjanjikan untuk mengembangkan potensi UKM para perempuan. Disamping itu, UKM yang telah terdaftar seperti Bu Susi, mendapat fasilitas informasi yang lebih update disbanding mereka yang belum terdaftar. Apalagi Jogja telah membuat layanan Jogja@access yang secara fungsinya sama seperti e-money lainnya. Tidak hanya itu, produk UKM dan pentas seni kebudayaan semua ditampilkan sehingga lebih dekat dengan para calon wisatawan.

Even semacam ekpo jogja surganya kuliner ini, telah difasilitasi berbagai konten yang sangat lengkap. Termasuk informasi Jogja@acces yang akan menjadi e-money milik jogja. Bukan tidak tentu lagi, jajanan pasar Bu Susi dan Bu Narti akan lebih mudah didapat dan dibayar lewat online. 


16 Februari 2019

Perempuan Bertumbuh Lewat Usaha Kelompok Kreatif Mikro Pedesaan


Usaha membuahkan hasil setelah seseorang tidak akan menyerah. Ungkapan Napoleon Hill ini cocok untuk menggambarkan keadaan pagi ini. Puluhan orang menjajakan dan memperkenalkan produk unggulan dari berbagai daerah di provinsi daerah Istimewa Yogyakarta dalam Ekspo UKM Istimewa yang digelar di halaman Dinas Koperasi UKM DIY . Bertema Enterprenuer Itu Keren ! Para pengrajin menampilkan produk- produk keren mereka. Sesuai dengan program Industri 4.0, Ekspo ini lebih menonjolkan food and beverage dan textile and appear. Dari cemilan ringan, makanan berat, batik, kerajinan hingga beragaman minuman segar menyehatkan tersaji lengkap.

Banyak cerita menarik melatarbelakangi motivasi setiap wirausahawan yang hadir di Ekspo UKM Istimewa. Semangat mengangkat prodak dan menciptakan peluang pasar menjadi cerita yang dibincangkan kepada para komsumen. Sekmen produk dan ceritanya pun bermacam-macam. Untuk segmen pasar pencinta kopi mereka saling berbagi cerita tentang roasting kopi, asal muasal kopi hingga rasa khas kopi. penggemar batik, remaja melenial, ibu-ibu rumah tangga  mereka yang punya rasa dan selera masing-masing memilih perbincangan asyik di stand masing-masing penjual.  Saya pun tidak ketinggalan untuk ikut masuk pada perbincangan beberapa stand yang ada.

Banyak berbagai kisah yang mengispirasi dari usaha pada wirausahawan dan wirausahawati untuk memperkenalkan keunggulan produk mereka. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah seorang ibu yang menjajakan Kripik Pisang Coklat. Tadinya saya mengira prodak ini hanya prodak olahan biasa, namun dibalik itu ada cerita yang menarik untuk di dengar. Lewat tampilan prodak kripiknya, ketua KWT bernama Suhartini ini menjelaskan bahwa prodaknya beda dengan yang lain. Sembari mencicipi kripik Pisang Coklat di toples tester, dia bercerita bahwa olahan kripik ini di campur dengan berbagai bahan tambahan seperti susu dan gula halus. Bahan utamanya pun, yakni kakao diambil dari hasil pertanian dusun tempatnya tinggal.

Melirik tampilan kemasan produknya pun juga sangat menarik mata. Pengemasannya menggunakan standing pouch warna emas dengan label “Pisang Coklat Oleh-Oleh Khas Gunung Kidul” membuat setiap konsumen tertarik untuk membelinya. Tidak hanya pisang yang dikombinasikan dengan coklat hasil olahan kakao, ada juga beberapa prodak olahan kakao lainnya, misalkan Dodol Coklat dan minuman coklat Conklang. Selain itu ada Jahe Instant yang juga merupakan hasil bumi dari wilayah tinggalnya.
                                                                                                       Sumber : Data pribadi
                                 Foto Suharti semabari membawa produk unggulan KWTnya

Seperti yang tertera dalam label produk, keselurahan makanan dan minuman instant tersebut berasal dari Kabupaten Gunung Kidul. Wilayah spesifik produksinya berasal dari Dusun Karang Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul. Siapa sangka semua produk ini diproduksi oleh KWT Melati Indah. Suhartini , menjelaskan kegiatan seperti ini baru dimualai tahun 2013 lewat binaan Dinas Pertanian dan Perkebunan DIY, Sedangkan produksinya baru dimulai pada tahun 2017 lalu. “ Awalnya sebelum 2013, KWTnya cuma menanam sayuran, baru setelah regenerasi itu fokus dipembuatan coklat”. Jelas Suhatri sembari tersenyum ceria.

Perempuan Bisa Perdikasikan Ekonomi Desa  

Ini ndak hanya dodol, minuman dan pisang coklat saja, Mbak! produknya banyak ada kuenya juga. Bahannya juga dari kakao. Kalau kuenya belum bisa tahan lama jadi yang saya bawa yang tahan lama” Suhartini menjelaskan tentang aneka prodak KWTnya. Anggota kelompok KWT berjumlah 20 orang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Kelompok ini bekerjasama dengan petani kakao yang berjumlah 50 orang dengan luasan kebun total 12 hektar. Sangat menarik, ditengah isu pemeberdayaan yang mengangkat peranan gender didalamnya, perempuan-perempuan anggota KWT ini justru secara mandiri dan sadar memperkuat ekonomi desa mereka.

                                                                                                        Sumber: Data pribadi
                                          Foto Produk Olahan Kakao KWT Melati Indah

Dari tahun 2013, pembekalan dan pendampingan dari Dinas Pertanian dan perkebunan seiring membuahkan hasil. Saat ini Kelompok KWT mampu menampung segala hasil kebun potensial di desanya. Bahkan sistem pengolahan dari barang mentah ke produk siap pasar semua dilakukan ibu-ibu KWT Melati Indah. Untuk produksi olahan kakao, mereka menampung biji kakao basah dari petani, memfermentasi dan melakukan pengolahan menjadi produk siap konsumsi.

Secara sistematis mereka juga mengontrol jadwal pemangkasan pada pohon kakao. Setiap hari Jum’at petani kakao memangkas ranting pohon kakaonya, hari Sabtu para petani menjual biji basah ke KWT untuk di fermentasi dan hari Minggu adalah hari pemasaran produk. Bagi mereka yang utama adalah memberdayakan masyarakat dan menaikan ekonomi dusun, sehingga pemenuhan bahan baku diambil seluruhnya dari wilayah Dusun Karang. Mereka akan mengambil bahan baku dari luar jika bahan baku dari dalam dusun tidak mencukupi.“Kalau ngambil bahan baku di dalam dusun itukan membantu petani, Mbak! Jadi mereka ndak jual kemana-mana. Harganya juga sudah pasti. Kita itu kalau beli kakao mesti menawarkan kok Mbak! ini mau diambil uang atau ndak? kalau misal ndak bisasnya itu masuk tabungan dan bisa dikembangkan untuk simpan pinjam anggota” jelasnya, menceritakan sistematika kerja kelompok KWTnya.

Implementsi Industri 4.0 pada Kegiatan KWT Melati Indah

Dari isu gender mengubah ekonomi desa, dari ranah domestik rumah tangga mereka berubah menjadi laskar pembawa kesejahteraan desa. Ekonomi hulu ke hilir, dari petani hingga ke konsumen keseluruhan digagas oleh 20 pasang tangan ibu-ibu rumah tangga yang kreatif. Kegiatan ini sama seperti harapan implementasi program Industri 4.0.

                                                                                               Sumber : Data Kemenperin
                                            Bagan Strategi untuk Makanan dan Minuman

Dalam empat elemen produk food and baverage yang diusung, KWT Melati Indah telah mewakili keseluruhan elemen. Highly Produktive agricultural and predictable yield diwujudkan dengan mensinergikan pola pemangkasan dan pemanenan. Strong SME support along the value chain diwujudkan dengan standart fermentasi dan pengolahan kakao dalam prodak olahan siap makan. Leading packaged food producer diwujudkan dengan pengemasan prodak yang sangat menarik dengan kemasan standing pouch dan label. Regional Food and beverage export hub diwujudkan dengan aktif mengikuti pameran dan ekpo produk sebagai usaha dari pemanfaatan akses domestik.

Titik prestasi mereka tidak sampai disisni. Mereka masih ingin terus maju, lewat pendampingan berbagai pihak diyakini menjadikan sumberdaya manusia mereka lebih berkualitas. “ Sampai sekarang kami masih didampingi, Mbak! kalau dulu pelatihan sekarang pameran seperti Ekspo Istimewa ini. Sementara ini produknya sudah menyebar di toko-toko oleh-oleh se-Gunung Kidul, insyaallah setelah ekspo ini kami mau nitip di pusat oleh-oleh yang ada di Kota Jogja” pungkasnya sebagai penutup perbinjangan saya dengannya.

Usaha yang menarik dan menginspirasi ini membuat saya sangat apresiatif pada  event ekspo yang digelar dari tanggal 14-16 Februari 2019 itu. Semangat menginspirasi berjumpa dengan perwkilan KWT Melati Indah menguatkan bahwa perempuan bisa menjadi agen of change bagi ranah domestik di sekitarnya. Nyala api semangat dari perempuan-perempuan kreatif  Dusun Karang Desa Ngalan Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul.  


Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me