Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2017

Coban Grojokan Sewu : Wisata Lokal Masyarakat di Atas Kepengurusan Perhutani

           Wisata grojogan Sumber Sewu merupakan wisata air terjun yang berada di pinggir jalan raya Ngantang Kasembon tepatnya di Dusun Tretes Desa Grobokan Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Daerah wisata air terjun ini cukup unik karena bangunannya yang dikombinasi warna merah dan kuning menggambarkan adanya karakteristik Cina. Selain itu, di dalam kawasan wisata juga terdapat patung Budha dan dua arca buatan mirip dwuarapala.
                Selama berkunjung disana, ada beberapa wisatawan lokal yang juga mendatangi tempat wisata air terjun tersebut. Menurut penuturan warga yang datang kesana, komplek air terjun ini dibangun sejak 5 tahunan yang lalu. Sebelum dibangun sebagai tempat wisata tempat ini merupakan punden desa. Tak ada keterangan mengenai nama Grojogan Sewu, namun menurut keterangan warga lainnya sebut saja Bu Bunga (nama disamarkan), tempat wisata lokal ini di bangun pada 2011 oleh seorang masyarakat Thionghoa dari Mojokerto. Orang China tersebut membangun kawasan air terjun Grojogan Sewu bukan karena misi ekonomi melainkan misi balas Budi dan ucapan terimakasih. Hal tersebut dilatarbelakangi kesembuhan orang Cina tersebut setelah mandi dan melakukan terapi beserta ritualnya di air terjun tersebut. Maka tidak heran jika di daerah tersebut ditemukan patung Budha.
              Pada kawasan wisata ini pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Semua fasilitas dapat digunakan secara gratis. Namun, belakangan ada beberapa pihak yang mencoba memanfaatkan kesempatan tiketing untuk kepentingan pribadi. Pihak-pihak tersebut datang dari warga dan pihak Kedinasan. Menurut Bu Bunga kawasan wisata tersebut memang termasuk dalam kawasan kelola perhutani sehingga pengelolaannya diambil alih perhutani secara hukum dan UU. Akan tetapi, pihak perhutani selaku pengelola kawasan hutan  tidak melakukan pengelolaan yang sistematis pada kawasan wisata itu. Kawasan grojogan sewu murni dikelola oleh penjaga punden dan masyarakat. Sebelumnya telah terjadi protes dari warga tentang pematokan pintu gerbang masuk kawasan wisata tersebut oleh dinas tekait. Akhirnya dinas tersebut membuat pintu gerbang masuk 300 meter dari jembatan masuk air terjun. Perkembangan loket masuk dan pintu gerbang tidak bertahan lama, karena medan masuk yang susah jika masuk lewat pintu wisata yang dibuat oleh kedinasan tersebut. Dari sini kedinasan tersebut kemudian memindah pintu masuk dikawasan dalam arah masuk air terjun dan lebih dekat dengan jembatan gantung.

    Foto Pintu Masuk Kedinasan

             Mengenai loketing awalnya pihak warga telah memanfaatkan peluang tersebut dengan menarik biaya masuk sebesar 10.000 namun ada satu peristiwa yang terjadi setelah kejadian diadakannya tiketing oleh warga. Warga yang menggagas tiketing tiba-tiba mengalami trans atau kesurupan. Tindakan kesurupan yang dialami adalah menghilangnya orang tersebut. Diduga orang tersebut menghilang diarea air terjun Grojogan Sewu. Setelah keesokan Harinya, orang tersebut kembali dan pulang kerumahnya dengan menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia menceritakan bahwa dia merasa naik bis dan di suruh membayar uang 10.000. pengalaman naik bis mistis dengan biaya 10.000 tidak hanya dalam satu bis namun bergantian hingga tak terhitung berapa bis yang dinaikinya saat itu. Kejadian ini kemudian diartikan sebagai peringatan dari yang menunggu punden di kawasan wisata tersebut.
             Pemandangan yang cukup unik dari wisata Grobokan sewu adalah kelengkapan fasilitas wisata. Fasilitas wisata yang ada diantaranya adalah toilet dan mushola. Untuk kawasan wisata yang awalmunyanya sebagai tempat ritual orang cina, hal ini merupakan satu keunikan sendiri pasalnya Toleransi beragama sangat terlihat dari adanya tempat. Akan tetapi  Keberadaan mushola menurut penulis  masih belum cukup untuk menggambarkan persoalan toleransi. Bisa jadi ada diskursus lainnya sebagai wacana dalam sebuah mushola digrojogan Sewu(nampaknya pembahasan mulai berat). Kawasan wisata ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang suka nge-trip. apalagi saat hari aktif masuk kawasan wisata ini sepi pengunjung dan dijamin gretong alias gratis. Silakan datang bagi yang mau merasakan sensasi alam serasa milik pribadi.

 Foto-Foto Lokasi Wisata





30 Juli 2016

Lokal dalam sensasi Global : Festival Budaya Kampung Tjelaket

          Seringkali penulis menemukan argument yang menyatakan "kematian budaya lokal" atau "matinya budaya lokal" atau juga beberapa artikel yang "menyatakan melemahnya budaya lokal" sebenarnya penulispun juga merasakan begitu pada awalnya modernisasi dan globalisasi yang melanda Indonesia akhir-akhir ini sering mengalihkan fokus generasi muda ke ranah budaya kekinian. Upload medsos, foto selfi, ngetrip selfi, pornografi, bahkan hingga faham seksualitas yang meninggi dan tidak pada tempatnya. Mereka kaum muda seringkali berkomentar seenak udelnya saja di media sosial tanpa tahu sejarah, esensi dan pertanggung jawaban dari komentar yang mereka unggah. Belum lagi paham Islam radikal membawa pengaruh besar bagi kaum muda yang seringkali mencemooh budaya lokal. 
          budaya lokal terus menerus tergeser membuat seoalah dia segan bernafas. Kalau kata "orang Mati segan hidup tak mau", nah lo.. jadi bingung. Namun, prediksi ini meleset jauh kenapa? karena buktinya semakin global kita justru semakin dicari kebudayaan lokal kita. Efek ini ditimbulkan setelah pasar bebas muncul sebagai tempat pertukaran ekonomi dimana object ekonomi ini memanfaatkan komunitas masyarakat dalam lingkup luas. Dari mulai AFTA hingga CAFTA semua menjadi satu jaringan komunitas perputaran dan pertambahan modal lintas Asia Tenggara dan Asia Tenggara-Cina. Fungsinya, agar bisa bersaing baik dalam sumberdaya manusia, sumber daya budaya dan sumber daya alam di ranah Asia Tenggara. Sehingga, dibentuk lah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC (Asean Economic Comunity). Lah terus kenapa lis- penulis??? isu ini awalnya terlihat biasa-biasa saja di permukaan, namun berbeda di dalamnya penguatan budaya lokal menciptakan beregam variasi pola di masyarakat. Dibeberapa kelompok masyarakat perkotaan mereka bahkan telah siap mengumangdangkan identitas budaya mereka agar mampu bersaing di ranah global. Yaa... meskipun kekuatan publikasi nya masih minim, tapi itulah yang nanti akan berproses dengan sendirinya. 
          Contoh dari aktifitas penguatan budaya ini dapat dilihat dari Festival Budaya Kampung Tjelaket. Tjelaket sendiri merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang berada di Kota Malang. Sebenarnya namanya adalah Kelurahan Rampal-Celaket dan tidak ditulis menggunakan 'Tj'. Huruf ejaan lama tersebut sebenarnya hanya digunakan sebagai brand karena budaya mengenal sejarah jadi harus 'jadul' biar kerasa "Tempoe Doloe' mungkin begitu. Tapi, ini hanya opini penulis saja lo...jadi tidak memiliki akurasi data yang cukup kuat. Kampung Budaya Tjelaket sebenarnya mengakomodir budaya lokal kota Malang dan menampilkannya dalam bentuk festival lokal. Menurut masyarakat disana, festival budaya sudah sering diadakan. Festival yang awalnya (2010) bernama Rampal Celaket Bersyukur ini akan menciptakan wahana pembelajaran akan pentingnya menjaga ketahanan budaya nusantara (sumber: http://kelrampalcelaket.malangkota.go.id/2016/07/21/fesstival-kampoeng-tjelaket/). Kampung Budaya Tjelaket ini diadakan 23-24 Juli 2016 dengan agenda pementasan budaya yang cukup padat dari mulai atraksi bantengan, talk show budaya, pasar rakyat hingga petas puisi lokal. kesadaran budaya lokal sebagai warisan nenek moyang dirasa menjadi satu modal untuk survive di ranah global. Menjadi untuk ditelaah bahwa gambaran mengenai kuatnya budaya lokal sebelumnya telah diramalkan oleh futurologi Naisbitt menjelaskan bahwa :
semakin kita menjadi universal, maka tindakan kita semakin menjadi kesukuan atau lebih berorientasi ‘kesukuan’ dan berpikir secara lokal, namun bertindak global” (Surahman, 2013, hlm. 32)
Referensi
Surahman, S. (2013). Dampak Globalisasi Media Terhadap Seni dan Budaya Indonesia. Jurnal Komunikasi, Volume 2, Nomor 1, Jan - April , 29 - 38.
 

- info : Liputan mengenai kampung budaya Tjelaket sedikit terbatas ya... karena keterbatasan tenaga dari penulis jadi hehehehe cuma liputan pentas seni bantengan saja, terimakasih
 Suasana Festival Kampung Budaya Tjelaket

Susunan Acara yang Padat

Gapura Masuk Area Pementasan Budaya

 Pasar Rakyat

Pertunjukan Seni Bantengan

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me