Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

01 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Situs Sejarah yang Kaya Cerita (Edisi Pertama)


     Siapa yang tak mengetahui nama besar Patih Gajah Mada. Beliau adalah Mahapatih Kerajaan Majapahit yang sudah terkenal di seluruh nusantara. Sumpahnya yang di namai sumpah Palapa menjadi salah satu ciri khas dalam perpolitikannya. Bunyi sumpah itu tidak lain adalah Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa atau dalam Bahasa Indonesia Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa. Sumpah itu tidak lain adalah ambisinya untuk menyatukan seluruh wilayah menjadi kenegaraan Nusantara atau Nuswantoro dengan Majapahit sebagai pusat pemerintahannya. Bagaimana kisah hidup Maha Patih ini?

     Berbagai penelitian dari ahli sejarah dan arkeologi yang mencoba untuk mencari jejak Sang Mahapatih Gajah Mada, namun sampai sekarang belum juga menemukan sebuah kepastian siapa sebenarnya Gajahmada. Berjalanan ekspedisi saya kali ini menemukan sebuah situs mengenai jejak sang mahapatih  yang ternyata tidak jauh dari rumah tinggal saya. Situs ini bernama Petilasan Agung Mahapatih Gajah Mada yang terletak di Desa Lambang Kuning, Kecamatan Kertosono Nganjuk. Terdapat banyak pepohonan, namun yang menyita perhatian adalah dua pohon beringin besar disana dan empat makam yang diselimuti kain pada batu pusaranya. Satu makam mendapat kekhususan, dari tata letaknya dia berada diantara dua pohon Beringin dan berpagar kuning rapat yang mengelilingi makam dan dua pohon beringin tersebut. Tiga makam lainya berada diluar pagar dan dibatasi dengan kain kuning dan rerimbunan pepohonan.

Foto Bangunan Utama Makam Roro Kuning 

      Menurut keterangan warga sekitar, keadaan situs ini dulunya tidak terjamah manusia. Masyarakat hanya tau disitu terdapat makam kramat dan merupakan petilasan Mahapatih Gajah Mada, namun masyarakat sekitar jarang mendatangi lokasi tersebut. Wilayah tersebut dulunya dikenal sebagai wilayah yang angker dan hanya orang-orang tertentu yang punya maksud dan keinginan mendatangi lokasi tersebut. Keadaanya sangat bertolak belakang dengan sekarang. Sejak dipugar  November 2008, situs ini lebih terbuka dan tidak seseram dahulu. Terlebih saat ini situs ini dikelola langsung oleh Paguyuban Petilasan Agung yang seluruh anggotanya lintas profesi dan Yayasan Kertagama Jakarta. Uniknya lagi tidak ada petugas kebersihan yang berjaga. Seluruh urusan bersih membersih melibatkan pengunjung dan dilakukan secara sukarela. Barang siapa yang ingin membersihkan (menyapu dan membersihkan toilet) dipersilakan, jika tidak mau atau hanya ingin berkunjung saja juga dipersilakan.

Foto Batu Peresmian Petilasan Agung 

Foto Banner Sekertariat Paguyuban Petilasan Agung
      
       Kata Petilasan sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia bekas jejak pertapaan. Diyakini makam utama yang berada di dalam pagar adalah makam Roro Kuning Istri Sang Mahapatih Gajah Mada beserta batu tempat bertapa, sedangkan diluar pagar adalah prajuritnya yang gugur saat Mahapatih bertapa di Desa Lambang Kuning. Banyak bekas dupa disekitaran makam utama. Seperti saat lebaran idul fitri kemarin banyak nya berziarah yang menyalakan dupa dan memanjatkan dupa.



Foto Makam Prajurit 

        Terdapat warung kecil sepuluh meter di selatan makam utama. Diakhir pekan warung ini ramai kunjungan para muda-mudi dan anak-anak. Selain kantin bangunan pendopo kecil peratap segilima juga terdapat di dekat pintu masuk. Rata-rata mereka memesan makanan di warung dan membawanya ke pendopo kecil tersebut sambal bercengkrama meninkmati sejuk dan rindaknya pepohonan. Menu yang ditawarkan oleh warung tersebut cukup beragam, dari mulai mie instan goreng hingga rebus plus telu, kopi, susu, teh, minuman sigmafit (tidak sebut merk) tersedia dan siap di pesan. Tidak ada tarif untuk masuk ke situs ini.

        Ada secuplik kisah cinta yang terekam dalam teks yang tepampang di papan Informasi. Ada baiknya kisah itu dilanjut di edisi kedua ya… ! dari pada yang baca kepanjangan, mending di bikin penasaran dulu hehehe. Oke selamat membaca beberapa informasi ini.

06 November 2016

Situs Wisata Sejarah Episode alam dan manusia penjaganya (Kebun Raya Bogor)

         Wisata Alam tengah kota dibeberapa tempat telah menjadi siatu objek yang tidak asing dikenali. Hutan kota malabar Dan Kebun Raya Bogor  adalah dua dari pabrik O2 tengah kota yang ada di Indonesia. Tapi, dalam tulisan Kali ini informasi yang diberikan tidak akan menjabarkan dua-duanya melainkan hanya mengenai Kebun Raya Bogor. Taman hutan dengan ragam flora Dan beberapa fauna (melingkupi burung Dan rusa) memiliki sejarah yang cukup keren lo.. Sejak didirikan oleh botanis jerman, keberadaan Kebun Raya Bogor terus berkembang hingga Sekarang. Tempat tersebut telah menjadi wilayah konservasi LIPI Dan terbukti bahwa di dalamnya tersimpan ribuan flora bahkan tanaman obat yang mungkin telah punah di Alam aslinya.
         Kebun raya Bogor didirikan pada 18 mei 1817 oleh Prof.Dr.C.G.C. Reinwaradt. Luas awal pendirian Kebun raya bogor adalah 87 hektar (penulis berhasil mengunjungi 1/10 hektar Dari luas keseluruhan). Awalnya, pada area kebun, sekitar 47 hektar area di Istana Bogor dan bekas Samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense. Sumber :http://www.krbogor.lipi.go.id/id/Sejarah-Kebun-Raya-Bogor.html 
         Sedangkan, keberadaan istana bogor di dalamnya memiliki sejarah yang berbeda. Dari informasi sebuah Situs, Asal mula dibangunnya Istana Bogor berawal dari keinginan orang – orang Belanda yang bekerja di Batavia (sekarang Jakarta ) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat – tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.Gubernur Jendral Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, ikut melakukan pencarian itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung yang bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff ( 1745 – 1750 ) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, (artinya bebas masalah / kesulitan). Pengurusan istana Bogor Dan Kebun raya Bogor bukan dalam satu kepengurusan yang sama. Meskipun begitu, sejarah istana Bogor juga dekat dengan pendirian Kebun raya bogor bahkan Dari istana Bogor inilah Kebun raya Bogor ada. Sumber:
http://bogorsehat.pedia.id/index.php/sejarah-bogor/106-kota-bogor-59284/265-sejarah-berdirinya-istana-bogor.html
         Dari sinilah kemudian istana Bogor mulai berkembang Dan sering di fungsikan sebagai istana kepresidenan dalam menyambut tamu penting kenegaraan. Selain istana Bogor, di Kebun raya Bogor juga terdapat makam Belanda Dan makan istri Prabu Siliwangi. Makam Belanda adalah makam para keluarga belanda yang bermukim di istana Bogor pada zamannya. Rata-rata mereka adalah keluarga ilmuan yang meneliti spies tanaman di Kebun raya Bogor. Mengenai makan istri Prabu Siliwangi penulis belum ke area pemakamannya. Lain waktu informasi mengenai makam tersebut akan disambung kembali saat penulis berkunjung ke Kebun Raya Bogor.

03 November 2016

Situs Wisata Sejarah Episode Stupa Sumberawan

               Banyak orang mengenal peninggalan candi-candi masa lampau. Namun, banyak juga dari mereka yang tidak mengenal asal usul sejarah dari tempat pemujaan mas lalu. Di beberapa keadaan bagi orang awam bentuk candi dan stupa seringkali sulit dibedakan termasuk penulis. Seperti halnya pada objek Stupa Sumberawan yang terletak di Desa Sumberawan Kecamatan Singosari, banyak orang yang mengenal objek ini sebagai candi bukan stupa. Padahal Sumberawan adalah stupa bukan candi. Keunikan atau ciri yang dapat dilihat dari bentuk stupa ataupun candi adalah candi merupakan suatu tatanan bangunan yang berundak terbuat dari Batu Andesit atau Batu Bata dan memiliki ruangan. Candi juga digunakan untuk perabuan atau pendarmaan raja. Sedangkan stupa adalah bangunan yang berasal dari Batu Andesit atau juga mungkin Batu Merah dan tidak memiliki ruangan.
                  Nah pada objek Sumberawan di Kecamatan Singosari adalah stupa. Sumberawan tidak memiliki ruangan dan memiliki payung diatasnya. Diyakini stupa ini merupakan salah satu objek penanda masuknya agama Budha pada kehidupan kerajaan Majapahit. Stupa ini merupakan replika dari satu stupa diborobudur. Setahu penulis, agama Budha yang masuk di Indonesia memiliki pusat keagamaan di Candi Borobudur sedangkan cabangnya atau tempat suci di tempat-tempat yang jauh dari Borobudur didirikan stupa (kalau dalam Islam mushola).
            Menurut buku  yang ditulis Pak Suwardono, Stupa sumberawan memiliki sejarah pendirian yang belum diketahui. Namun, menurut juru kunci stupa, stupa ini didirikan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Fungsi stupa Sumberawan adalah sarana untuk menyimpan potongan kuku dan rambut sang Budha dan nantinya para arhat dan para biksu.
             Menjabarkan keberadaan Medan dan area stupa sumberawan berada sangatlah menarik. Stupa ini diyakini sabagai taman bidadari. Dengan mata air yang banyak ditemui disekitar stupa. Mata air tersebut dalam Budha dinamai air Amerta. Dalam buku catatan singkat stupa Sumberawan Pak Suwardono Amerta adalah air suci minuman para dewa yang barang siapa meminumnya maka dia terhindar dari kematian (penulis dah minum banyak nich berarti penulis hidup abadi di dunia dech hehehe). 

 Gambaran Konstruksi Stupa Sumberawan

              Bentuk dari stupa sumberawan sendiri diyakini memilik payung atau kuncup diatasnya dengan relief tertentu. Namun,ketika ditemukan bentuk stupa tidak lagi sempurna. Kuncup stupa ditemukan telah menjadi reruntuhan dan dikumpulkan di area pinggiran stupa. Menurut rekonstruksi kerangka bangunan berdasarkan  garis rekonstruksi ganda stupa ini terdiri dari tiga tingkat dhatu atau aturan dari alam semesta yakni Kamandhatu (kehidupan duniawi), Rupadhatu (pembasan nafsu)dan Arupadhatu (kehidupan di akhirat).
            Keberadaan stupa ini pada masa sekarang masih aktif difungsikan  sebagai tempat persembahyangan pada hari Waisa dan tempat ritual pada hari-tertentu untuk kalangan kejawen. Keadaan dan situasi yang dekat dengan alam membuat lokasi ini diyakini mampu memberi kekuatan spiritual tersendiri dalam ketenangan alam. Jika berminat silakan berwisata ke Sumberawan dan direkomendasikan untuk mencoba meminum dan mandi air Amerta disana.

 Suasana di Stupa Kompleks Sumberawan



22 Juli 2016

Situs Wisata Sejarah Episode Candi Jawi (Pasuruan)


  Mengenal sejarah berdirinya Nusantara sebenarnya sangat menyenangkan lo! Banyak hal yang disa di pelajari dari sana, pola hidup, sistem pertanian, model teknologi, seni-budaya, makanan, teknik perang pola arsitektur hingga sistem kepercayaan. Sayangnya, kegiatan mengenal sejarah masih jarang diminati. Banyak alasan untuk tidak meminati kegiatan tersebut. Bagi anak-anak zaman sekarang wahana wisata berbau teknologi tinggi lebih menyenangkan daripada wisata ke candi atau museum purbakala. Kenyataannya sih, iya penulispun juga merasa begitu. Sebenarnya ketika kita bisa membaca dan mengenal sejarah banyak keuntungan yang kita dapat, misalnya menerapkan keunggulan teknologi atau strategi dimasa lampau untuk di bawa ke masa sekarang. Namun, pernah terbersit sedikit pertanyaan dipikiran penulis kenapa ya sejarah menjadi penting? Sebenarnya sudah ada beberapa jawaban mengenai pertanyaan itu dari beberapa buku etnografi yang nyasar dan kilaf di baca penulis. Buku-buku itu merangkum jejak kejayaan masalalu dari Mataram, Majapahit, Padjajaran dan Sriwijaya. Sebuah buku (tapi lupa judul dan pengarannya) menceritakan  pengalaman dari pelayar bangsa eropa yang menginjakan kakinya pertama di Nusantara. pelayar tersebeut melihat kekayaan Jawa yang melimpah bahkan jalanpun di bangun dari emas. Begitu kayanya nusantara kala itu. Tetapi, kekayaan nusantara waktu itu justru membuat orang barat terpikat dan ingin menguasai kekayaan nusantara dengan 3G-nya (glory, gold, gospel). Dulu sistem dan tata kehidupan masyarakat Nusantara telah tertata dengan baik tidak ada KB tapi juga tidak ada ledakan penduduk semuanya terkendali berkat pola kesehatan berbasis herbal (yang sekarang sudah tenggelam).Pemikiran-pemikaran modern telah ada, dimana persepsi seksualitas tidak ada, semua dianggap sama antara perempuan dan laki-laki tidak ada yang berbusana. 
          Perubahan terbesar kehidupan nusantara mulai berubah seiring penjajah datang dan perlahan mulai memaksa penduduk untuk bertanam paksa, kerja rodi dan dibudakkan. Perbudakan inilah yang membuat maindset lapar-makan-mencuri-keyang-kecanduhan-seks bebas dll. muncul dan menjadikan indonesia seperti sekarang. Pada proses perbudakaan orang lebih berfikir perut tanpa mau berfikir tentang sejarah. 350 tahun dijajah belanda dan 3,5 tahun di jajah jepang maka totalnya adalah 353,5 tahun orang indonesia secara turun temurun hanya berfikir masalah lapar dan dan kenyang hingga menciptakan mindset 'banyak anak banyak rezeki'. 353,5 tahun masa penjajahan itulah orang Nusantara terutama indonesia kehilangan sejarahnya akibat perbudakan. Belum lagi di potong dengan siasat memerdekakan Indonesia sudah barang tentu tidak ada waktu untuk melihat sejarah secara lebih dalam kala itu. Panjangnya masa tersebut seringkali di manfaatkan kaum Eropa untuk meneliti sejarah Indonesia dengan resiko monopoli data yang cukup tinggi. kaum pribumi saat itu justru kehilangan sejarah nenek moyang mereka. Masa kehilangan sejarah selama itu masih ditambah dengan ketidaktegasahan pengelolaan situs purbakala di masa sekarang. Potensi hilangnya sejarah juga di dukung dengan ketidak mau tahuan generasi muda sekarang. 
        Seringkali penulis bertemu peneliti luar negeri, mereka beramai-ramai meneiti Indonesia mengenai situsnya dan sejarahnya untuk di boyong dan diterapkan di negara mereka lalu indonseia untung apa? pasti hanya untung referensi penelitiannya saja. kalau menurut penulis buku-buku hibah ataupun bukan hibah yang bersumber dari peneliti luarnegeri di Indonesia tidak lain hanyalah ampas yang sarinya telah diambil membuat kita tertinggal jauh dengan modernitas dan keunggulan ekonomi serta teknologi mereka. tulisan ini sebenarnya adalah bentuk keprihatinan penulis saat penulis berkunjung ke salah satu situs purbakala yakni Candi Jawi. Candi Jawi berada di darah kabupaten Pasuruan dan terletak diantara kecamatan prigen dan Pasuruan, letaknya cukup strategis yakni dipinggir jalan utama prigren-pandaan-surabaya. Area situs tersebut dijaga oleh petugas dari dinas purbakala. Tidak ada karcis masuk di sana, pengunjung hanya dikenakan banyaran seiklasnya. Menurut keterangan penjaga Candi Jawi masih aktif digunakan sebagai tempat persembanyangan, sehingga seseorang yang kesana seharusnya memiliki perilaku yang tidak asal-asalan. sejak bumingnya foto selfi situs candi ini menjadi sasaran background para selfier hingga terasa tidak enak dipandang. Sifat pengunjung yang sangat memprihatinkan adalah tidak menghornati candi ini sebagai tempat suci. Secara etika dimanapun tempat sucinya dan apapun background agama tempat suci itu, bagi perempuan yang sedang datang bulan dilarang untuk menginjak, menduduki ataupun memasuki ritus utama. namun, kebanyakan situasi dilapangan sangat berbeda.


                                                      Foto Selfi Masyarakat Di Candi Jawi

                                                              Pintu Masuk Candi Jawi

         Ulasan sejarah candi kawi menurut Negarakertagama (56:1) didirikan oleh Raja Kertanegara pada akhir pemerintahan Singasari (XIII). Candi ini difungsikan sebagai tempat Pendharmaan Raja Kertanegara, hal ini dapat diketahui dari relief candi yang menggambarkan suatu ritus Pradaksina (suatu  upacara yang berhubngan dengan penghoramatan terhadap dewa). Dari beberapa relief juga dapat dilihat tata cara upacara dan busana yang dikenakan. beberapa foto baikpenampakan tempat wisata ini gambar relief dan tata arsitektur sempat di dokumentasikan oleh penulis. Relief-relief tersebut mengambarkan betapa kehidupan zaman dahulu sebenarnya memiliki penghidupan yang adiluhung, darisini semoga keberadaan situs sejarah difungsikan secara positif bukan secara negatif. Biar bagaimanapun sejarah merupakan jati diri bangsa, keunggulan budaya yang fungsinya sebagai referensi dan pembanding untuk kemajuan Indonesia.
Semoga tulisan ini bermanfaat pagi pembaca, Terimakasih.

                                                                Relief samping candi

                                                               Kompleks Candi Jawi

                                                          Komplek Depan Candi Jawi
                                                                                                                                Salam,
                                                                                                                                penulis 

18 Juli 2016

Mitos Pendakian Gunung Arjuno

JILUMOTUNGOLAS sengaja ditulis dengan angka kapital bukan karena maksud apa-apa, melainkan karena kata-kata itu adalah singkatan. Penulis mendapatkan kata-kata itu dari induk semang penulis yang berada Desa Jatiarjo. Sebenarnya  JILUMOTUNGOLAS adalah singkatan dari siji, telu, limo, pitu, songo, sewelas dan seterusnya angka ganjil dalam bahasa Jawa. Angka-angka tersebut ditandai karena terkait dengan mitos pendakian ke Gunung Arjuno. Menurut Bapak semang penulis " kalau mau menjadaki ke Arjuno jumlahe jangan ganjil. Bahaya bisa terjadi apa-apa sudah sering kejadian". Selain itu, bapak juga bercerita kalau beberapa bulan yang lalu ada pendakian dari sekelompok anak Surabaya kalau penulis tidak salah ingat. sekelompok pendaki itu naik ke Arjuno dengan jumlah sembilan orang. Mereka mendaki dengan selamat tapi pulangnya tidak selamat. Dua diantaranya meninggal akibat tertinggal dari rombongan lalu tersesat dan kemudian ditemukan meninggal akibat kedinginan dan kelelahan. kata bapak semang penulis " jangankan kok orang luar, orang Jatiarjo saja sering tersesesat". Kiranya begitulah kepercayaan magis masih menguat di Gunung Arjuno menurut kalangan dan cara pandang masyarakat Jatiarjo. Daerah lain selain di kawasan utama Arjuno daerah ringgit juga di tandai sebagai area wingit apalagi kata anak bapak semang penulis disana ada makam dan juga penunggunya. Entah makam siapa karena penulis tidak mengorek informasi lebih dalam. 
          Pada umumnya gunung telah menjadi tempat perlindungan dan penghidupan bagi masyarakat Jawa. itupun, telah dijabarkan pada tulisan atau buku Lucas Sasongko dengan judul Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaann terbitan Grasindo 2010. Gunung telah menjadi satu simbol ayah dan laut telah menjadi simbol ibu kiranya begitulah penggambaran kosmologi Jawa. Lebih menarik lagi penggembaran kosmologi Jawa itu dipakai oleh kerajaan Mataram awal mulaya memberi penguatan politik dari sisi penguasaan Jawa lewat segi mistik. Mengenai "kosmologi", kosmologi sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan asal muasal penciptaan alam semesta. Pengertian kosmologi sendiri dapat dilihat pada buku Fabian H. Chandra dengan judul Kosmologi studi struktur dan asal mula alam semesta. Pada legenda Jawa dan cerita rakyat yang berkembang, awalnya pulau jawa itu adalah pulau nobaden karena mengambar tanpa ada pemberat. Waktu itu itu dewa melihat dari atas langit dan kemudian prihatin melihat pulau yang mengambang itu. Akhirnya dewa berinisiatif untuk membotong sebagian pucak Himalaya di India untuk dibayai ke Pulau Jawa. Awalnya sebelat Timur yang diberi irisan Gunung Himalaya tersebut tapi jomplang sebelah atau timpang sebelah akibatnya Jawa sempat miring dan akhirnya gunung tersebut diris lagi dan dibagi sama rata. Gara-gara moitologi tersebut, pada waktu kecil dulu penulis sepat berimagenasi terbang ke langit untuk bertemu dewa. Banyangan lain adalah merasakan hidup diatas pulau yang berpindah. Lucu tapi ya hanya imagenasi anak-anak harap dimaklumi. Kaiatan mitologi tersebut masih kuat membuat gunung memiliki kedudukan skaral terlebih jika dikaitkan dengan Pantai Selatan. Sakaralitas gunung tersebut melahirkan suatu tradisi dalam bentuk ritual yang selalu dilakukan masyarakat Jawa seperti juga masyarakat Jatiarjo. Betapapun liarnya alam, masyarakat tetap memiliki cara agar alam bisa membawa keselamatan bagi manusia yang hidup di dalam ekologinya (Gunung).

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me