Jamur Tiram, Siapa yang tidak
tahu jamur putih nan enak itu? Berbagai olahan seperti Sop, Tumis dan krispi akan
lebih lezat ketika jamur ini menjadi bahan utamanya. Jalan-jalan Sabtu pagi di
keramaian Museum Gunung Merapi, saya menemukan olahan jamur yang kemasannya
sangat enak dipadang. Olahan tersebut adalah krispi Jamur Tiram. Camilan kaya
gizi ini hanya ada satu-satunya di Gelar Prodak UKMK yang diselenggarakan di
pelataran Museum Gunung Merapi. Stand camilan kaya gizi ini, milik Bu Tari. Lebih menarik perhatian lagi, ketika salah satu produk jamur krispinya sedang promo.
Ketika saya mendekati stand
tersebut, dengan ramah saya ditawari
untuk mencicipi berbagai rasa dari Jamur Krispi yang ada. Sayapun tak membuang
kesempatan tersebut, saya segera mencicipi krispi jamur rasa original. Rasa krispi jamur ini sungguh tidak menghilangkan rasa asli dari jamur itu sendiri.
Ditambah renyahnya tepung membuat saya tak mau berhenti mengunyah. Rasa
original tak juga mengobati rasa penasaran, saya kembali mencicipi krispi jamur
rasa pedas level satu. Dari gigitan pertama rasa renyah tetap saya dapatkan
dengan perpaduan rasa gurih berbalut pedas yang pelan-pelan muncul menyelimuti
rasa asli jamur. Meski tidak terlalu pedas, level satu cukup cocok untuk mereka
yang tidak terlalu suka pedas. Rasa penasaran masih juga tak kunjung terobati,
saya pun merasakan tester jamur krispi pedas level 2 dan 3. Dua level ini cukup
membuat saya melek, karena tingkatan rasa pedasnya lebih mantap dan terasa dari
level satu. Untuk kalangan muda yang suka dengan tantangan pedas, level dua dan
tiga adalah pilihan yang tepat.
Foto Berburu Prodak Sehi Rame-Rame
Stand Bu Tari Rame Pembeli
Terpikat dengan rasa jamur krispi yang ditawarkan, membawa saya pada obrolan ringan terkait sejarah dari produk
Jamur Krispi Bu tari. Pada stand Bu Tari terdapat beberapa produk snack ringan, salah satunya jamur krispi Bu Tari Original dan Balado, Jamur Krispi Sehi empat rasa dan manisan salak kering. Dulunya produk Bu Tari hanya jamur tiram biasa yang
dibudidayakan lewat Kumbung Jamur di sebelah rumahnya pada tahun 2012. Jamur
tiram mentah dijual di pasar dan penjual sayuran di wilayah Purwobinangun atau
juga biasanya diambil penjual ke Rumah Bu Tari.
“ Waktu itu saya belum punya ide mbak, mau diapakannya jamur ini. Saya
baru mulai mengolah sendiri itu tahun 2014, saya olah krispi. Saya punya ide
mengolah Jamur Krispi itu Karena mengisi waktu luang. Daripada bingung habis
panen diam aja mending ngolah jamur.” Terang Bu Tari
Jamur Krispi yang telah diolah dikemas dalam wadah plastik snack tebal dan di sealer. Produk ini dititipkan ke beberapa toko dan mini market sekitar Purwobinangun. Rasa yang
ditawarkan dari jamur krispy Bu Tari waktu itu masih jamur krispi rasa original dan balado. Label kemasannya pun masih sederhana, dengan plastik dan stiker produk diatas kemasan
dan diplastik depan kemasan. Satu kemasan di jual dengan harga Rp. 13.000,- /
100 gram. Tingkat keuntungannya pun lebih banyak dari pada dijual dalam produk
mentah. Selain itu, Bu Tari juga membuat manisan salak dengan harga Rp.
16.000,-/100gram. Manisan salak ini menjadi produk olahan lain yang peminatnya
juga tak kalah banyak dari prodak jamur krispinya.
Kolaborasi Berdaya Jual Tinggi
Seiring waktu Bu Tari terus
berinovasi pada produk krispi jamurnya. Berbagai saran konsumen, ilmu-ilmu dari pelatihan PLUT-UKMK di Yogyakarta dan rajin
mengikuti pameran, akhirnya Produk Jamur Sehi pun tercetus. Bu Tari tidak
sendiri, dia berkolaborasi dengan anak laki-lakinya yang baru lulus dari
Jurusan akuntansi STIEYKPN untuk menciptakan terobosan varian dan kemasan baru. Bu Tari meyakini kalau generasi saat ini lebih memiliki koneksi yang luas terlebih lagi di dunia sosial media.
" Kalau Sehi ini anak saya Mbak, kebetulan baru lulus kuliah terus saya ajak. dia yang tau online sama yang buat labelnya itu ya dia" Jelas Bu Tari
Kolaborasi dua generasi antara
ibu dan anak, melahirkan produk Jamur Krispy Sehi, dengan varian empat rasa
yakni rasa original, Pedas level 1, level 2 dan
level 3. Kemasannya pun menggunakan standing pouch transparan satu sisi
dan stiker tiga perempat sisi depan berwarna kuning. Inovasi ini baru mulai
dikenalkan pada gelaran prodak UKMK yang diselenggarkan oleh PLUT-UKMK di Yogyakarta di pelataran museum Gunung Merapi 13-15
September ini. Nama Sehi sendiri adalah singkatan dari nama panggilan ke empat
anak Bu Tari yakni Sita, Elin, Hima dan
Ida. Dari kemasan baru ini, pasarpun menyambut baik. Banyak konsumen yang mulai
tertarik membeli produk Jamur Krispi Sehi. Apalagi dalam peluncuran perdananya produk Jamur Krispi Sehi di jual dengan harga promo Rp.10.000,-/ Rp. 75 gram dari harga Rp. 13.000/75 gram.
Sehi dan Produk Kripik Jamur dan Manisan Salak Bu Tari
Berkolaborasi dengan kaum muda
dirasakan Bu Tari mampu meningkatkan pendapatan. Terlebih lagi Hima, anak
laki-laki Bu Tari, menggunakan model Industri 4.0, dimana lebih memanfaatkan
jaringan online seperti Tokopedia, Bukalapak dan Instagram. Kolaborasi ini,
membuktikan bahwa SDM unggul ternyata tidak datang dari yang muda saja. Generasi tua pun, jika didampingi generasi muda dan berkolaborasi mampu memicu meningkatkan ekonomi secara signifikan. Dari harga produk Jamur Kripi Bu Tari Rp. 13.000/100gram kini Jamur Krispi Sehi Rp. 13.000/75gram. Meski inovasi produk Kripik Jamur Sehi sudah mulai banyak diminati, kedepan kemasan plastik dengan merk Bu Tari tertap di produksi. Produk tersebut nantinya ditujukan untuk kalangan rumah tangga dan pasar lokal, sedangkan Kripik Jamur Sehi pada pasar kaula muda melenial dan pasar online. Pola kolaborasi dua generasi ini bisa menjadi pioner dalam dunia UKMK, apalagi wujud pengembangan ekonominya berbasis keluarga. Jadi, jika
ada banyak Bu Tari dan Hima lainnya, tentu Indonesia akan lebih mapan dibidang UKMK.
Penasaran dengan produk Jamur Sehi dan Jamur Krispi Bu Tari? Langsung aja cek Instagram @Jamur.krispi.butari atau langsung cek di marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak. Jangan lupa kunjungi website www.diskopumkm.jogjaprov.go.id dan www.plutjogja.com




0 comments:
Posting Komentar