Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

10 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Kisah Cinta dan Kesetian Sang Mahapatih Gajah Mada (Edisi Kedua)


    Sebuah kisah cinta terekam dari Petilasan Mahapatih Gajah Mada di Desa Lambang Kuning. Keberadaan Gajah Mada di Desa tersebut dilatarbelakangi kisah cinta antara Hayam Wuruk dan Sri Dyah Pitaloka Putri Cantik dari Kerajaan Padjajaran. Raja Hayam Wuruk bermasuk ingin melamar Sri Dyah Pitaloka untuk dipersunting olehnya dan mengutus Patih Gajah Mada dalam proses lamaran tersebut. Mahapatih Gajah Mada menolak rencana itu, baginya dia telah berjanji pada sumpah Palapanya bahwasanya semua kerajaan termasuk padjajaran harus takluk dibawah panji-panji Majapahit. Putri Padjajaran menurutnya harus menjadi putri sasrahan atau putri taklukan dan bukan dilamar seperti yang dimaksud Raja Hayam Wuruk.

Foto Papan Informasi Kisah Cinta Maha Patih Gajah Mada 

    Terjadi pertempuran antara Majapahit dan Padjajaran yang mengakibatkan gugurnya Raja Padjajaran beserta Putrinya Sri Dyah Pitaloka. Mendengar berita tersebut Raja Hayam Wuruk murka  kepada Mahapatih Gajah Mada. Untuk menghindari konflik saudara di kerajaan Majapahit, sang patih pun mengalah meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri jauh dari pusat kerajaan dengan membawa sekelompok pasukan inti kerajaan yang bernama Bayangkara.

Foto Pagar Makam Roro Kuning 

       Tempat pengasingan sang Mahapatih berada di sebelah barat Sungai Brantas tepatnya diwilayah perdikan Karang Kletak. Wilayah ini sebelumnya telah di babat oleh Senopati Majapahit yakni Iro Robo. Sebelum Patih Gajah Mada datang, Iro Robo telah menyiapkan sebuah benteng yang terbuat dari batu bata merah serta sebuah rumah yang terbuat dari Gladak Kayu Jati di Puthuk Boto yaitu 300 meter dari lokasi situs Petilasan Gajah Mada. Rumah Gladak Kayu Jati tersebut telah lama dihuni oleh Ratu Niang atau Roro Kuning atau Rondo Kuning yang telah dijaga Senopati Iro Boro beserta puluhan pasukannnya.

Foto Makam Roro Kuning 

      Setelah tiba di Karang Kletak, Patih Gajah Mada menikah dengan Roro Kuning dan hidup sederhana menjadi seorang petani dan beternak untuk menghilangkan jati dirinya. Dia juga dikenal dengan panggilan Mbah Budho. Dengan nama panggilan tersebut diharapkan prejurit pimpinan Hayam Wuruk kesulitan menemukannya. Dalam persembunyiannya Mbah Budho melakukan pertapaan atau semedi kepada Sang Hyang Widhi  untuk menyempurnakan hidupnya. Beberapa karya beliau hasilkan seperti Kitab Sutasoma, Negara Kertagama dan Kutara Saranawa. Kitab Negara Kertagama menuat kalimat “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangwara” yang artinya Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang bermuka dua. Kata Bhineka Tunggal Ika sekarang ini menjadi simbol negara Indonesia yang tertulis dalam pita yang di cengkram burung garuda.

       Kisah cinta sang Patih kemudian dipisahkan oleh maut, Nyai Roro Kuning meninggal dan dikebumikan di Desa Lambang Kuning yang saat ini menjadi situs petilasan. Makam utama yang berpagar dinyakini adalah Makan Nyai Roro Kuning yang didekatnya terdapat batu datar tempat semedi sang Mahapatih. Mahapatih pun memutuskan pergi dari desa tersebut dan membawa pasuakannya. Beberapa literatur menjelaskan Patih Gajah Mada pergi ke Bali dan menikah dengan anak raja, namun informasi ini silakan dicross cek sendiri. Berapa keyakinan masyarakat, Patih Gajah Mada Moksa atau hilang di suatu tempat yang diyakini ada di Trenggalek yakni Gua Gajah Mada.

        Foto Makam Roro Kuning dari sisi Barat 

        Seluruh sumber cerita ini merupakan sanduran dari informasi di papan informasi yang kata-katanya mulai meluntur terkena hujan dan panas. Bagi yang tertarik dilakan datang langsung ke Desa Lambang Kuning di Kertosono Nganjuk ya…!

01 Juli 2019

Petilasan Gajah Mada : Situs Sejarah yang Kaya Cerita (Edisi Pertama)


     Siapa yang tak mengetahui nama besar Patih Gajah Mada. Beliau adalah Mahapatih Kerajaan Majapahit yang sudah terkenal di seluruh nusantara. Sumpahnya yang di namai sumpah Palapa menjadi salah satu ciri khas dalam perpolitikannya. Bunyi sumpah itu tidak lain adalah Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa atau dalam Bahasa Indonesia Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa. Sumpah itu tidak lain adalah ambisinya untuk menyatukan seluruh wilayah menjadi kenegaraan Nusantara atau Nuswantoro dengan Majapahit sebagai pusat pemerintahannya. Bagaimana kisah hidup Maha Patih ini?

     Berbagai penelitian dari ahli sejarah dan arkeologi yang mencoba untuk mencari jejak Sang Mahapatih Gajah Mada, namun sampai sekarang belum juga menemukan sebuah kepastian siapa sebenarnya Gajahmada. Berjalanan ekspedisi saya kali ini menemukan sebuah situs mengenai jejak sang mahapatih  yang ternyata tidak jauh dari rumah tinggal saya. Situs ini bernama Petilasan Agung Mahapatih Gajah Mada yang terletak di Desa Lambang Kuning, Kecamatan Kertosono Nganjuk. Terdapat banyak pepohonan, namun yang menyita perhatian adalah dua pohon beringin besar disana dan empat makam yang diselimuti kain pada batu pusaranya. Satu makam mendapat kekhususan, dari tata letaknya dia berada diantara dua pohon Beringin dan berpagar kuning rapat yang mengelilingi makam dan dua pohon beringin tersebut. Tiga makam lainya berada diluar pagar dan dibatasi dengan kain kuning dan rerimbunan pepohonan.

Foto Bangunan Utama Makam Roro Kuning 

      Menurut keterangan warga sekitar, keadaan situs ini dulunya tidak terjamah manusia. Masyarakat hanya tau disitu terdapat makam kramat dan merupakan petilasan Mahapatih Gajah Mada, namun masyarakat sekitar jarang mendatangi lokasi tersebut. Wilayah tersebut dulunya dikenal sebagai wilayah yang angker dan hanya orang-orang tertentu yang punya maksud dan keinginan mendatangi lokasi tersebut. Keadaanya sangat bertolak belakang dengan sekarang. Sejak dipugar  November 2008, situs ini lebih terbuka dan tidak seseram dahulu. Terlebih saat ini situs ini dikelola langsung oleh Paguyuban Petilasan Agung yang seluruh anggotanya lintas profesi dan Yayasan Kertagama Jakarta. Uniknya lagi tidak ada petugas kebersihan yang berjaga. Seluruh urusan bersih membersih melibatkan pengunjung dan dilakukan secara sukarela. Barang siapa yang ingin membersihkan (menyapu dan membersihkan toilet) dipersilakan, jika tidak mau atau hanya ingin berkunjung saja juga dipersilakan.

Foto Batu Peresmian Petilasan Agung 

Foto Banner Sekertariat Paguyuban Petilasan Agung
      
       Kata Petilasan sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia bekas jejak pertapaan. Diyakini makam utama yang berada di dalam pagar adalah makam Roro Kuning Istri Sang Mahapatih Gajah Mada beserta batu tempat bertapa, sedangkan diluar pagar adalah prajuritnya yang gugur saat Mahapatih bertapa di Desa Lambang Kuning. Banyak bekas dupa disekitaran makam utama. Seperti saat lebaran idul fitri kemarin banyak nya berziarah yang menyalakan dupa dan memanjatkan dupa.



Foto Makam Prajurit 

        Terdapat warung kecil sepuluh meter di selatan makam utama. Diakhir pekan warung ini ramai kunjungan para muda-mudi dan anak-anak. Selain kantin bangunan pendopo kecil peratap segilima juga terdapat di dekat pintu masuk. Rata-rata mereka memesan makanan di warung dan membawanya ke pendopo kecil tersebut sambal bercengkrama meninkmati sejuk dan rindaknya pepohonan. Menu yang ditawarkan oleh warung tersebut cukup beragam, dari mulai mie instan goreng hingga rebus plus telu, kopi, susu, teh, minuman sigmafit (tidak sebut merk) tersedia dan siap di pesan. Tidak ada tarif untuk masuk ke situs ini.

        Ada secuplik kisah cinta yang terekam dalam teks yang tepampang di papan Informasi. Ada baiknya kisah itu dilanjut di edisi kedua ya… ! dari pada yang baca kepanjangan, mending di bikin penasaran dulu hehehe. Oke selamat membaca beberapa informasi ini.

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me