Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

Konsep Kafe Mandiri yang Halalan Toyibah serta Menyehatkan

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (QS Al A'raf :5).

Reog dan Tradisi Nyadranan Desa Jogomerto Nganjuk

Reog satu karya leluhur yang memiliki nilai seni Tinggi. Siapa tak tahu seni ini, bahkan seni ini pernah menjadi polemik klaim budaya di negara tentangga. Reog sudah menjadi identitas kental Ponorogo dan Jawa Timur.

Surga di Pedalaman Dataran Tinggi Bukit Barisan

Bahkan terkepung oleh gugusan bukit barisan yang rapatpun, tak ada kata kelaparan. Adat mengatur masyarakatpun patuh. Swasembada pangan yang jauh dari kepunahan dan kepungan pupuk kimia. Arif dan lestari dalam setiap tapak langkah aturan adat istiadat desa.

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten NganjuSurga di Pedalaman Bukit Barisan

Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug.Basis bank protein air tawar dari daratan ini mengutamakan konsep pengembangan komoditas dari hulu ke hilir.

23 Februari 2019

Jajanan Rakyat, UKM Sederhana yang Menjanjikan


Setiap orang Indonesia pasti tidak asing dengan jajanan gorengan ala rakyat. Dari mulai Bakwan, Laba-Laba, Cilur, Telur Gulung, Sempol, Tempe Mendoan dan masih banyak lagi. Makanan seperti sangat digemari di segala usia. Peminatnya yang lumayan banyak membuat omset berdagang gorengan cukup menjanjikan. Pedagang makanan seperti itu, juga sangat gampang ditemui, termasuk dalam ekspo Jogja Surganya Kuliner yang digelar di JEC.


Tidak hanya jajanan gorengan, kuliner dari level berat hingga ringan bisa dijumpai pada ekspo yang di gelar sejak tanggal 20-23 Februari 2019 ini. Selain makanan stand batik dan aneka ragam kerajinan khas Jogja dan sekitarnya dapat dijumpai dengan mudah. Menariknya sepanjang kunjungan saya ke Ekspo ini mayoritas pedagang yang menjajakan makanan pada stand kuliner adalah para perempuan, begitupun pada stan kerajinan khususnya batik.

Saya tertarik untuk melihat keseluruhan stand kuliner yang ada disana. Sepanjang mata memandang ada beberapa kuliner yang memikat saya untuk membeli. Jajanan Telur Gulung dan Sempol membuat saya kembali bernostalgia dengan masa kecil dan masa kuliah saya. Harganya pun cukup bersahabat, satu tusuk dijual dengan harga seribu dan dikemas dalam satu paket seharga lima ribu rupiah isi lima tusuk. Menariknya dengan harga jual yang relative murah, ibu-ibu penjualnya mengaku cukup untung dan menjanjikan.

Salah satu stand pertama yang saya datangi adalah stand Bu Narti. Stand jajanan rakyat ini menjual Telur Gulung, Sempol Ikan, Sempol Ayam, Bakso Pedas, Ondol-Ondol Jepang, Ceker Pedas Dan Sosis Telur. Seluruh aneka kuliner yang disajikan dihidangkan langsung ke para pembeli. Cara ini memudahkan pembeli memilih menu kesukaan mereka. Omsetnya juga cukup menjanjikan. Dengan hanya berjualan jajanan rakyat, Bu Narti dapat mengatongi pendapatan kotor hingga tiga juta rupiah.
Pola jualan, pedagang jajanan rakyat yang satu ini, juga cukup unik. Bu Narti yang ditemani iparnya saat berjualan, mengaku menjajakan dagangannya di ekspo-ekpo rakyat yang di gelar di Yogjakarta. Banyaknya even festival yang digelar, menjadi peluang bagi ibu rumah tangga ini menjajakan dagangannya langsung ke pembeli.



Saya memulai ini baru tiga tahun ok mbak. Awalnya ya lihat list di Instagram lalu di jadwal. Pas rame itu lumayan mbak bisa tiga juta kalua sepi hanya kurang dari satu juta. Itu sudah lumayan mbak namanya kita jualan ya pandai-pandai kita”. Jelas Bu Narti. Selain Bu Narti, ada juga Bu Susi yang juga menjualan penganan rakyat murah meriah. Stand Bu Susi menjual Cimol, Cireng, Sempol dan Telur Gulung. Semuanya dijual dengan harga satu paket sepuluh ribu plus dengan bonus satu tusuk sempol.


Sejak setahun terakhir Bu Susi mengatakan, dirinya bergabung dengan grup UMKM yang dibina langsung oleh Dinas Koperasi UKM DIY. Mulai 22-23 Bu Susi mendapat fasilitas stand dideretan binaan dinas tersebut. Setiap harinya Bu Susi manjajakan jualannya di Condong Catur dan Kadisoka Yogyakarta. Bu Susi juga sering menjajakan dagangannya di berbagai ekpo dan festival. Bahkan beberapa kali kulinernya masuk dan diliput beberapa koran On-line.

Kemarin Mbak! kalau pas ramai jualan kayak gini di karapan sapi Wedomartani, enam jam sudah dapat satu juta lima ratus”. Ungkap Bu Susi. Dalam menjajakan dagangannya dia ditemani oleh suaminya. Rasa dan karakter aneka makanannya juga ditemukan dari resep eksperimennya tanpa mengandalkan resep google.

Wanita Dalam Peluang Emas Kemajuan UMKM Indonesia

Dalam penelitian IFC memaparkan pada Agustus dan September 2015 lalu tercatat sebanyak 360 UKM dari 600 UKM yang terdata dimiliki oleh perempuan. Dalam hasil penelitian juga disebutkan bahwa masih banyak UKM yang dimiliki oleh perempuan yang tidak terdaftar secara formal, hal ini menghambat temu gelang antara pedagang dan perusahaan besar.

Dari dua stand jajanan rakyat yang saya temui di ekpo jogja surganya kuliner, satu pedagang tergabung dalam binaan Dinas Koperasi UKM DIY sedangkan satunya berjalan secara mandiri. Dua duanya dijalankan oleh perempuan dan memiliki omset yang cukup menguntungkan.

Seperti omset tiga juta rupiah yang di dapat oleh Bu Narti. Omset ini dapat melijit lebih tinggi lagi apabila strategi jualannya bisa dimaksimalkan. Variasinya bisa berupa jualan on-line, franchise dan pengemasan yang lebih modern. Tentu hal ini menjadi peluang yang lebih menjanjikan untuk mengembangkan potensi UKM para perempuan. Disamping itu, UKM yang telah terdaftar seperti Bu Susi, mendapat fasilitas informasi yang lebih update disbanding mereka yang belum terdaftar. Apalagi Jogja telah membuat layanan Jogja@access yang secara fungsinya sama seperti e-money lainnya. Tidak hanya itu, produk UKM dan pentas seni kebudayaan semua ditampilkan sehingga lebih dekat dengan para calon wisatawan.

Even semacam ekpo jogja surganya kuliner ini, telah difasilitasi berbagai konten yang sangat lengkap. Termasuk informasi Jogja@acces yang akan menjadi e-money milik jogja. Bukan tidak tentu lagi, jajanan pasar Bu Susi dan Bu Narti akan lebih mudah didapat dan dibayar lewat online. 


16 Februari 2019

Perempuan Bertumbuh Lewat Usaha Kelompok Kreatif Mikro Pedesaan


Usaha membuahkan hasil setelah seseorang tidak akan menyerah. Ungkapan Napoleon Hill ini cocok untuk menggambarkan keadaan pagi ini. Puluhan orang menjajakan dan memperkenalkan produk unggulan dari berbagai daerah di provinsi daerah Istimewa Yogyakarta dalam Ekspo UKM Istimewa yang digelar di halaman Dinas Koperasi UKM DIY . Bertema Enterprenuer Itu Keren ! Para pengrajin menampilkan produk- produk keren mereka. Sesuai dengan program Industri 4.0, Ekspo ini lebih menonjolkan food and beverage dan textile and appear. Dari cemilan ringan, makanan berat, batik, kerajinan hingga beragaman minuman segar menyehatkan tersaji lengkap.

Banyak cerita menarik melatarbelakangi motivasi setiap wirausahawan yang hadir di Ekspo UKM Istimewa. Semangat mengangkat prodak dan menciptakan peluang pasar menjadi cerita yang dibincangkan kepada para komsumen. Sekmen produk dan ceritanya pun bermacam-macam. Untuk segmen pasar pencinta kopi mereka saling berbagi cerita tentang roasting kopi, asal muasal kopi hingga rasa khas kopi. penggemar batik, remaja melenial, ibu-ibu rumah tangga  mereka yang punya rasa dan selera masing-masing memilih perbincangan asyik di stand masing-masing penjual.  Saya pun tidak ketinggalan untuk ikut masuk pada perbincangan beberapa stand yang ada.

Banyak berbagai kisah yang mengispirasi dari usaha pada wirausahawan dan wirausahawati untuk memperkenalkan keunggulan produk mereka. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah seorang ibu yang menjajakan Kripik Pisang Coklat. Tadinya saya mengira prodak ini hanya prodak olahan biasa, namun dibalik itu ada cerita yang menarik untuk di dengar. Lewat tampilan prodak kripiknya, ketua KWT bernama Suhartini ini menjelaskan bahwa prodaknya beda dengan yang lain. Sembari mencicipi kripik Pisang Coklat di toples tester, dia bercerita bahwa olahan kripik ini di campur dengan berbagai bahan tambahan seperti susu dan gula halus. Bahan utamanya pun, yakni kakao diambil dari hasil pertanian dusun tempatnya tinggal.

Melirik tampilan kemasan produknya pun juga sangat menarik mata. Pengemasannya menggunakan standing pouch warna emas dengan label “Pisang Coklat Oleh-Oleh Khas Gunung Kidul” membuat setiap konsumen tertarik untuk membelinya. Tidak hanya pisang yang dikombinasikan dengan coklat hasil olahan kakao, ada juga beberapa prodak olahan kakao lainnya, misalkan Dodol Coklat dan minuman coklat Conklang. Selain itu ada Jahe Instant yang juga merupakan hasil bumi dari wilayah tinggalnya.
                                                                                                       Sumber : Data pribadi
                                 Foto Suharti semabari membawa produk unggulan KWTnya

Seperti yang tertera dalam label produk, keselurahan makanan dan minuman instant tersebut berasal dari Kabupaten Gunung Kidul. Wilayah spesifik produksinya berasal dari Dusun Karang Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul. Siapa sangka semua produk ini diproduksi oleh KWT Melati Indah. Suhartini , menjelaskan kegiatan seperti ini baru dimualai tahun 2013 lewat binaan Dinas Pertanian dan Perkebunan DIY, Sedangkan produksinya baru dimulai pada tahun 2017 lalu. “ Awalnya sebelum 2013, KWTnya cuma menanam sayuran, baru setelah regenerasi itu fokus dipembuatan coklat”. Jelas Suhatri sembari tersenyum ceria.

Perempuan Bisa Perdikasikan Ekonomi Desa  

Ini ndak hanya dodol, minuman dan pisang coklat saja, Mbak! produknya banyak ada kuenya juga. Bahannya juga dari kakao. Kalau kuenya belum bisa tahan lama jadi yang saya bawa yang tahan lama” Suhartini menjelaskan tentang aneka prodak KWTnya. Anggota kelompok KWT berjumlah 20 orang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Kelompok ini bekerjasama dengan petani kakao yang berjumlah 50 orang dengan luasan kebun total 12 hektar. Sangat menarik, ditengah isu pemeberdayaan yang mengangkat peranan gender didalamnya, perempuan-perempuan anggota KWT ini justru secara mandiri dan sadar memperkuat ekonomi desa mereka.

                                                                                                        Sumber: Data pribadi
                                          Foto Produk Olahan Kakao KWT Melati Indah

Dari tahun 2013, pembekalan dan pendampingan dari Dinas Pertanian dan perkebunan seiring membuahkan hasil. Saat ini Kelompok KWT mampu menampung segala hasil kebun potensial di desanya. Bahkan sistem pengolahan dari barang mentah ke produk siap pasar semua dilakukan ibu-ibu KWT Melati Indah. Untuk produksi olahan kakao, mereka menampung biji kakao basah dari petani, memfermentasi dan melakukan pengolahan menjadi produk siap konsumsi.

Secara sistematis mereka juga mengontrol jadwal pemangkasan pada pohon kakao. Setiap hari Jum’at petani kakao memangkas ranting pohon kakaonya, hari Sabtu para petani menjual biji basah ke KWT untuk di fermentasi dan hari Minggu adalah hari pemasaran produk. Bagi mereka yang utama adalah memberdayakan masyarakat dan menaikan ekonomi dusun, sehingga pemenuhan bahan baku diambil seluruhnya dari wilayah Dusun Karang. Mereka akan mengambil bahan baku dari luar jika bahan baku dari dalam dusun tidak mencukupi.“Kalau ngambil bahan baku di dalam dusun itukan membantu petani, Mbak! Jadi mereka ndak jual kemana-mana. Harganya juga sudah pasti. Kita itu kalau beli kakao mesti menawarkan kok Mbak! ini mau diambil uang atau ndak? kalau misal ndak bisasnya itu masuk tabungan dan bisa dikembangkan untuk simpan pinjam anggota” jelasnya, menceritakan sistematika kerja kelompok KWTnya.

Implementsi Industri 4.0 pada Kegiatan KWT Melati Indah

Dari isu gender mengubah ekonomi desa, dari ranah domestik rumah tangga mereka berubah menjadi laskar pembawa kesejahteraan desa. Ekonomi hulu ke hilir, dari petani hingga ke konsumen keseluruhan digagas oleh 20 pasang tangan ibu-ibu rumah tangga yang kreatif. Kegiatan ini sama seperti harapan implementasi program Industri 4.0.

                                                                                               Sumber : Data Kemenperin
                                            Bagan Strategi untuk Makanan dan Minuman

Dalam empat elemen produk food and baverage yang diusung, KWT Melati Indah telah mewakili keseluruhan elemen. Highly Produktive agricultural and predictable yield diwujudkan dengan mensinergikan pola pemangkasan dan pemanenan. Strong SME support along the value chain diwujudkan dengan standart fermentasi dan pengolahan kakao dalam prodak olahan siap makan. Leading packaged food producer diwujudkan dengan pengemasan prodak yang sangat menarik dengan kemasan standing pouch dan label. Regional Food and beverage export hub diwujudkan dengan aktif mengikuti pameran dan ekpo produk sebagai usaha dari pemanfaatan akses domestik.

Titik prestasi mereka tidak sampai disisni. Mereka masih ingin terus maju, lewat pendampingan berbagai pihak diyakini menjadikan sumberdaya manusia mereka lebih berkualitas. “ Sampai sekarang kami masih didampingi, Mbak! kalau dulu pelatihan sekarang pameran seperti Ekspo Istimewa ini. Sementara ini produknya sudah menyebar di toko-toko oleh-oleh se-Gunung Kidul, insyaallah setelah ekspo ini kami mau nitip di pusat oleh-oleh yang ada di Kota Jogja” pungkasnya sebagai penutup perbinjangan saya dengannya.

Usaha yang menarik dan menginspirasi ini membuat saya sangat apresiatif pada  event ekspo yang digelar dari tanggal 14-16 Februari 2019 itu. Semangat menginspirasi berjumpa dengan perwkilan KWT Melati Indah menguatkan bahwa perempuan bisa menjadi agen of change bagi ranah domestik di sekitarnya. Nyala api semangat dari perempuan-perempuan kreatif  Dusun Karang Desa Ngalan Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul.  


17 Juli 2017

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk : Sentra Ekonomi Perikanan Kawasan Dataran Rendah

"Yang tidak makan ikan, saya tenggelamkan", Bintang Ikan, Susi Pudjiastuti, Mentri Kelautan dan Perikanan 



 Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi  di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein air tawar dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan  berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

       Apa Sih Kawasan Minapolitan itu ? Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Minapolitan masuk dalam kategori Agropolitan dijelaskan bahwa Kawasan Agropolitan/Minapolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian/perikanan dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis. Itu artinya kawasan ini merupakan centar ekonomi perikanan atau Pasar Ikan. Indonesia telah memiliki dua daerah Model Kawasan Minapolitan yang dinilai sukses yakni Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Pacitan. 

           Kabupaten Nganjuk juga memiliki Kawasan Minapolitan yang juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner Badug. Sejak lama, kawasan ini telah menawarkan sensasi kuliner dipinggir sungai atau warung pinggir kali  dengan menu spesial iwak kali atau ikan sungai. Badug sebenarnya adalah bendungan yang dibangun di persimpangan dua aliran sungai Brantas dan difungsikan sebagai irigasi persawahan di Kecamatan Tanjunganom. Seiring perjalanan waktu, pintu air bendungan lama kelamaan menjadi satu daya tarik wisata lokal, hingga terdapat beberapa warung makan yang menyajikan menu ikan segar khas sungai Brantas.

Foto Pintu Air Bendungan Badug di Sungai Brantas

               Saat ini, Badug menjadi sentra wisata kuliner berbau ikan sekaligus pasar ikan khas sungai air tawar. Jika berkunjung ke Nganjuk, rekomendasi tempat wisata kuliner yang satu ini selalu disarankan. Saya sebagai orang asli Nganjuk, sebenarnya sudah sering mendatangi tempat ini. Untuk pecinta kuliner yang bosan dengan santapan Fast Food dan ingin bernostalgia dengan masakan tradisional, Badug adalah tempat yang tepat. terlebih bagi mereka yang suka dengan hidangan berbahan ikan. 

               Daerah Minapolitan ini, menyajikan aneka hidangan ikan dengan berbagai cara pengolahan. Dari Mulai di goreng, di kukus, di bumbu, di giling hingga dibakar seluruhnya tersedia disini. Olahan kaya rempah yang menggugah selera makan benar-bener bisa didapatkan dengan mudah. Jenis ikan yang ditawarkanpun juga beragam, dari mulai Ikan Bawal, Gurame, Gabus, Belut, Wader, Kething, Udang, Bandeng, Nila dan beberapa ikan khas lokal lainnya. 

Foto Pasar Ikan Segar di Badug

           Berkunjung ke Badug, para wisatawan pencinta kuliner akan disuguhkan dengan pemandangan berderet rumah makan dipinggiran sungai dan pasar ikan kecil. Konsepnya adalah makan lalu pulang membawa oleh-oleh ikan segar. Harga yang ditawarkan dari kuliner hingga ikan segar pun cukup bervariasi. Dengan uang Rp. 100.000.- pengunjung bisa makan keyang dan membawa oleh-oleh ikan segar lo...! untuk harga ikan segarnya juga cukup bervariasi. Ikan Nila, Gurame, Belut dan Wader dijual dengan harga Rp. 25.000-30.000, sedangkan Udang dijual dengan harga Rp. 60.000,-. Ikan Lele dijual dari harga Rp.18.000-Rp.20.000. Sedangkan menu yang ditawarkan adalah berbagai varian Bothok Ikan, Lalapan Ikan, Bakso Ikan, Ikan Bakar, Sayur Asem dan Es Degan. 

Foto Salah Satu Warung Makan yang sedang Ramai Pengunjung

            Selain sensasi makanan olahan ikan dan ikan segarnya, Badug juga menawarkan keunikan lainnya. Keunikan ini adalah peranan perempuan yang 90% menyokong aktivitas ekonomi di Kawasan Minapolitan Badug. Dari mulai pengelola warung makan hingga penjual ikan segar semuanya dijalankan oleh kaum hawa. Fenomena ini sangat sesuai dengan  Misi  pengembangan kawasan Minapolitan yakni Produksi, Pendapatan dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Daerah terlebih dari segi Gender. 
Foto Emak-Emak Sedang Berjualan Ikan segar

Menarik Bukan.......! 
Jika berkunjung ke Nganjuk sempatkan mampir ya.....!







15 Maret 2017

Coban Grojokan Sewu : Wisata Lokal Masyarakat di Atas Kepengurusan Perhutani

           Wisata grojogan Sumber Sewu merupakan wisata air terjun yang berada di pinggir jalan raya Ngantang Kasembon tepatnya di Dusun Tretes Desa Grobokan Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Daerah wisata air terjun ini cukup unik karena bangunannya yang dikombinasi warna merah dan kuning menggambarkan adanya karakteristik Cina. Selain itu, di dalam kawasan wisata juga terdapat patung Budha dan dua arca buatan mirip dwuarapala.
                Selama berkunjung disana, ada beberapa wisatawan lokal yang juga mendatangi tempat wisata air terjun tersebut. Menurut penuturan warga yang datang kesana, komplek air terjun ini dibangun sejak 5 tahunan yang lalu. Sebelum dibangun sebagai tempat wisata tempat ini merupakan punden desa. Tak ada keterangan mengenai nama Grojogan Sewu, namun menurut keterangan warga lainnya sebut saja Bu Bunga (nama disamarkan), tempat wisata lokal ini di bangun pada 2011 oleh seorang masyarakat Thionghoa dari Mojokerto. Orang China tersebut membangun kawasan air terjun Grojogan Sewu bukan karena misi ekonomi melainkan misi balas Budi dan ucapan terimakasih. Hal tersebut dilatarbelakangi kesembuhan orang Cina tersebut setelah mandi dan melakukan terapi beserta ritualnya di air terjun tersebut. Maka tidak heran jika di daerah tersebut ditemukan patung Budha.
              Pada kawasan wisata ini pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Semua fasilitas dapat digunakan secara gratis. Namun, belakangan ada beberapa pihak yang mencoba memanfaatkan kesempatan tiketing untuk kepentingan pribadi. Pihak-pihak tersebut datang dari warga dan pihak Kedinasan. Menurut Bu Bunga kawasan wisata tersebut memang termasuk dalam kawasan kelola perhutani sehingga pengelolaannya diambil alih perhutani secara hukum dan UU. Akan tetapi, pihak perhutani selaku pengelola kawasan hutan  tidak melakukan pengelolaan yang sistematis pada kawasan wisata itu. Kawasan grojogan sewu murni dikelola oleh penjaga punden dan masyarakat. Sebelumnya telah terjadi protes dari warga tentang pematokan pintu gerbang masuk kawasan wisata tersebut oleh dinas tekait. Akhirnya dinas tersebut membuat pintu gerbang masuk 300 meter dari jembatan masuk air terjun. Perkembangan loket masuk dan pintu gerbang tidak bertahan lama, karena medan masuk yang susah jika masuk lewat pintu wisata yang dibuat oleh kedinasan tersebut. Dari sini kedinasan tersebut kemudian memindah pintu masuk dikawasan dalam arah masuk air terjun dan lebih dekat dengan jembatan gantung.

    Foto Pintu Masuk Kedinasan

             Mengenai loketing awalnya pihak warga telah memanfaatkan peluang tersebut dengan menarik biaya masuk sebesar 10.000 namun ada satu peristiwa yang terjadi setelah kejadian diadakannya tiketing oleh warga. Warga yang menggagas tiketing tiba-tiba mengalami trans atau kesurupan. Tindakan kesurupan yang dialami adalah menghilangnya orang tersebut. Diduga orang tersebut menghilang diarea air terjun Grojogan Sewu. Setelah keesokan Harinya, orang tersebut kembali dan pulang kerumahnya dengan menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia menceritakan bahwa dia merasa naik bis dan di suruh membayar uang 10.000. pengalaman naik bis mistis dengan biaya 10.000 tidak hanya dalam satu bis namun bergantian hingga tak terhitung berapa bis yang dinaikinya saat itu. Kejadian ini kemudian diartikan sebagai peringatan dari yang menunggu punden di kawasan wisata tersebut.
             Pemandangan yang cukup unik dari wisata Grobokan sewu adalah kelengkapan fasilitas wisata. Fasilitas wisata yang ada diantaranya adalah toilet dan mushola. Untuk kawasan wisata yang awalmunyanya sebagai tempat ritual orang cina, hal ini merupakan satu keunikan sendiri pasalnya Toleransi beragama sangat terlihat dari adanya tempat. Akan tetapi  Keberadaan mushola menurut penulis  masih belum cukup untuk menggambarkan persoalan toleransi. Bisa jadi ada diskursus lainnya sebagai wacana dalam sebuah mushola digrojogan Sewu(nampaknya pembahasan mulai berat). Kawasan wisata ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang suka nge-trip. apalagi saat hari aktif masuk kawasan wisata ini sepi pengunjung dan dijamin gretong alias gratis. Silakan datang bagi yang mau merasakan sensasi alam serasa milik pribadi.

 Foto-Foto Lokasi Wisata





06 November 2016

Situs Wisata Sejarah Episode alam dan manusia penjaganya (Kebun Raya Bogor)

         Wisata Alam tengah kota dibeberapa tempat telah menjadi siatu objek yang tidak asing dikenali. Hutan kota malabar Dan Kebun Raya Bogor  adalah dua dari pabrik O2 tengah kota yang ada di Indonesia. Tapi, dalam tulisan Kali ini informasi yang diberikan tidak akan menjabarkan dua-duanya melainkan hanya mengenai Kebun Raya Bogor. Taman hutan dengan ragam flora Dan beberapa fauna (melingkupi burung Dan rusa) memiliki sejarah yang cukup keren lo.. Sejak didirikan oleh botanis jerman, keberadaan Kebun Raya Bogor terus berkembang hingga Sekarang. Tempat tersebut telah menjadi wilayah konservasi LIPI Dan terbukti bahwa di dalamnya tersimpan ribuan flora bahkan tanaman obat yang mungkin telah punah di Alam aslinya.
         Kebun raya Bogor didirikan pada 18 mei 1817 oleh Prof.Dr.C.G.C. Reinwaradt. Luas awal pendirian Kebun raya bogor adalah 87 hektar (penulis berhasil mengunjungi 1/10 hektar Dari luas keseluruhan). Awalnya, pada area kebun, sekitar 47 hektar area di Istana Bogor dan bekas Samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense. Sumber :http://www.krbogor.lipi.go.id/id/Sejarah-Kebun-Raya-Bogor.html 
         Sedangkan, keberadaan istana bogor di dalamnya memiliki sejarah yang berbeda. Dari informasi sebuah Situs, Asal mula dibangunnya Istana Bogor berawal dari keinginan orang – orang Belanda yang bekerja di Batavia (sekarang Jakarta ) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat – tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.Gubernur Jendral Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, ikut melakukan pencarian itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung yang bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff ( 1745 – 1750 ) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, (artinya bebas masalah / kesulitan). Pengurusan istana Bogor Dan Kebun raya Bogor bukan dalam satu kepengurusan yang sama. Meskipun begitu, sejarah istana Bogor juga dekat dengan pendirian Kebun raya bogor bahkan Dari istana Bogor inilah Kebun raya Bogor ada. Sumber:
http://bogorsehat.pedia.id/index.php/sejarah-bogor/106-kota-bogor-59284/265-sejarah-berdirinya-istana-bogor.html
         Dari sinilah kemudian istana Bogor mulai berkembang Dan sering di fungsikan sebagai istana kepresidenan dalam menyambut tamu penting kenegaraan. Selain istana Bogor, di Kebun raya Bogor juga terdapat makam Belanda Dan makan istri Prabu Siliwangi. Makam Belanda adalah makam para keluarga belanda yang bermukim di istana Bogor pada zamannya. Rata-rata mereka adalah keluarga ilmuan yang meneliti spies tanaman di Kebun raya Bogor. Mengenai makan istri Prabu Siliwangi penulis belum ke area pemakamannya. Lain waktu informasi mengenai makam tersebut akan disambung kembali saat penulis berkunjung ke Kebun Raya Bogor.

03 November 2016

Situs Wisata Sejarah Episode Stupa Sumberawan

               Banyak orang mengenal peninggalan candi-candi masa lampau. Namun, banyak juga dari mereka yang tidak mengenal asal usul sejarah dari tempat pemujaan mas lalu. Di beberapa keadaan bagi orang awam bentuk candi dan stupa seringkali sulit dibedakan termasuk penulis. Seperti halnya pada objek Stupa Sumberawan yang terletak di Desa Sumberawan Kecamatan Singosari, banyak orang yang mengenal objek ini sebagai candi bukan stupa. Padahal Sumberawan adalah stupa bukan candi. Keunikan atau ciri yang dapat dilihat dari bentuk stupa ataupun candi adalah candi merupakan suatu tatanan bangunan yang berundak terbuat dari Batu Andesit atau Batu Bata dan memiliki ruangan. Candi juga digunakan untuk perabuan atau pendarmaan raja. Sedangkan stupa adalah bangunan yang berasal dari Batu Andesit atau juga mungkin Batu Merah dan tidak memiliki ruangan.
                  Nah pada objek Sumberawan di Kecamatan Singosari adalah stupa. Sumberawan tidak memiliki ruangan dan memiliki payung diatasnya. Diyakini stupa ini merupakan salah satu objek penanda masuknya agama Budha pada kehidupan kerajaan Majapahit. Stupa ini merupakan replika dari satu stupa diborobudur. Setahu penulis, agama Budha yang masuk di Indonesia memiliki pusat keagamaan di Candi Borobudur sedangkan cabangnya atau tempat suci di tempat-tempat yang jauh dari Borobudur didirikan stupa (kalau dalam Islam mushola).
            Menurut buku  yang ditulis Pak Suwardono, Stupa sumberawan memiliki sejarah pendirian yang belum diketahui. Namun, menurut juru kunci stupa, stupa ini didirikan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Fungsi stupa Sumberawan adalah sarana untuk menyimpan potongan kuku dan rambut sang Budha dan nantinya para arhat dan para biksu.
             Menjabarkan keberadaan Medan dan area stupa sumberawan berada sangatlah menarik. Stupa ini diyakini sabagai taman bidadari. Dengan mata air yang banyak ditemui disekitar stupa. Mata air tersebut dalam Budha dinamai air Amerta. Dalam buku catatan singkat stupa Sumberawan Pak Suwardono Amerta adalah air suci minuman para dewa yang barang siapa meminumnya maka dia terhindar dari kematian (penulis dah minum banyak nich berarti penulis hidup abadi di dunia dech hehehe). 

 Gambaran Konstruksi Stupa Sumberawan

              Bentuk dari stupa sumberawan sendiri diyakini memilik payung atau kuncup diatasnya dengan relief tertentu. Namun,ketika ditemukan bentuk stupa tidak lagi sempurna. Kuncup stupa ditemukan telah menjadi reruntuhan dan dikumpulkan di area pinggiran stupa. Menurut rekonstruksi kerangka bangunan berdasarkan  garis rekonstruksi ganda stupa ini terdiri dari tiga tingkat dhatu atau aturan dari alam semesta yakni Kamandhatu (kehidupan duniawi), Rupadhatu (pembasan nafsu)dan Arupadhatu (kehidupan di akhirat).
            Keberadaan stupa ini pada masa sekarang masih aktif difungsikan  sebagai tempat persembahyangan pada hari Waisa dan tempat ritual pada hari-tertentu untuk kalangan kejawen. Keadaan dan situasi yang dekat dengan alam membuat lokasi ini diyakini mampu memberi kekuatan spiritual tersendiri dalam ketenangan alam. Jika berminat silakan berwisata ke Sumberawan dan direkomendasikan untuk mencoba meminum dan mandi air Amerta disana.

 Suasana di Stupa Kompleks Sumberawan



21 Agustus 2016

PIMNAS 29 di IPB

        
Tanggal 13 Augustus kemarin penulis Baru saja di delegasikan untuk mewakili brawijaya pada ajang bergengsi pimnas 29 di IPB Bogor. Pimnas merupakan sebuah ajang bergengsi yang konon katanya sanggup meningkatkan level universitas yang menjadi juara umum di ajang ini. Tahapan pimnas sebenarnya di awali Dari tahap pkm. Pkm adalah program kreatifitas mahasiswa, dimana mahasiswi-mahasiswa Dari seluruh universitas negeri Dan swasta mengirimkan ice mereka dalam wujud proposal secara berkelompok. Tentunya kelompok pkm yang dipilih adalah mereka yang merupakan mahasiswa satu universitas Dan diperbolehkan until membentuk gabungan Dari berbagai fakultas. Proposal pkm yang di buat kemudian di unggah. Jika lolos maka suatu kelompok akan melewati 3 tahap untuk mencapai tahap pimnas, itupun kalau tidak gugur dalam tiap seleksinya.
         Tiga tahapan selanjutnya adalah lolos pendanaan, lolos monev dikti Dan lolos pimnas. Masing -masing tahapan memakan waktu cukup panjang. Pengalaman penulis Dari tahap pkm hingga pimnas di butuhkan waktu selama setahun (jangan kaget ya). Sebenarnya ajang kompetisi INI sama seperti lomba esay lainya, namun kompetisi INI memiliki prestis besar karena dinaungi langsung oleh kemenristek dikti. Alhasil kebersahasilan dalam pimnas dijamin dapat meningkatkan great universitas tertentu.
Melihat prestis yang begitu kuat, pasti banyak yang bertanya mengenai kenapa Dan bagaimana pimnas diciptakan? Sekadar infomasi yang di dapat Dari paparan buku panduan pimnas 29 (2016) kemarin di IPB, awalnya pimnas dibentuk dengan visi "memperkaya wawasan Serta pengembangan ide antar mahasiswa seluruh indonesia". Sejak 1988 pimnas awal mulanya dinamai LKTI (lomba karya tulis iliah)Dan LKIP (lomba Karya Inovasi Prodak ) Dan telah diselenggarakan di 29 universitas Negri maupun swasta selama 29 tahun.  LKTI Dan LKIP pada masanya lebih dikenal sebagai LKTM yang kemudian berubah menjadi PIMNAS pada 1990 yang di selenggarakan di IPB. PIMNAS inilah yang kemudian sangat mempengaruhi citra universitas karena ada harapan yang bisa dihasilkan Dari penyelenggaraan PIMNAS yakni untuk mencapai kesejahteraan Dan lahirnya ide dan gagasan bagi pembangunan bangsa(penulispun berharap begitu).
         Juara Umum yang mampu bertahan hingga telah menjadi yang kelima adalah universitas brawijaya. Universitas yang berada di Malang Ini benar-benar memiliki kemampuan yang istimewa. Harapannya semoga pimnas 29 mampu melahirkan bibit unggul pembangunan bangsa seperti halnya dr. Gamal. Akan tetapi, bukan berarti hanya PIMNAS yang mampu melahirkan manusia yang memiliki pikiran maju, Dari ajang-ajang bergengsi lainnya juga mampu muncul orang-orang hebat. Tentunya harapan ini memerlukan praktek yang lebih nyata dari para mahasiswa untuk mengabdi kepada bangsa bukan untuk menyejahterakan kantong dan perut pribadi.
         Ya Itulah hakikat mahasiswa sebenarnya yaitu untuk memanusiakan manusia agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat. Selamat ya Universitas Brawijaya Bangsa penulis menjadi satu bagian perjuanganmu.

30 Juli 2016

Lokal dalam sensasi Global : Festival Budaya Kampung Tjelaket

          Seringkali penulis menemukan argument yang menyatakan "kematian budaya lokal" atau "matinya budaya lokal" atau juga beberapa artikel yang "menyatakan melemahnya budaya lokal" sebenarnya penulispun juga merasakan begitu pada awalnya modernisasi dan globalisasi yang melanda Indonesia akhir-akhir ini sering mengalihkan fokus generasi muda ke ranah budaya kekinian. Upload medsos, foto selfi, ngetrip selfi, pornografi, bahkan hingga faham seksualitas yang meninggi dan tidak pada tempatnya. Mereka kaum muda seringkali berkomentar seenak udelnya saja di media sosial tanpa tahu sejarah, esensi dan pertanggung jawaban dari komentar yang mereka unggah. Belum lagi paham Islam radikal membawa pengaruh besar bagi kaum muda yang seringkali mencemooh budaya lokal. 
          budaya lokal terus menerus tergeser membuat seoalah dia segan bernafas. Kalau kata "orang Mati segan hidup tak mau", nah lo.. jadi bingung. Namun, prediksi ini meleset jauh kenapa? karena buktinya semakin global kita justru semakin dicari kebudayaan lokal kita. Efek ini ditimbulkan setelah pasar bebas muncul sebagai tempat pertukaran ekonomi dimana object ekonomi ini memanfaatkan komunitas masyarakat dalam lingkup luas. Dari mulai AFTA hingga CAFTA semua menjadi satu jaringan komunitas perputaran dan pertambahan modal lintas Asia Tenggara dan Asia Tenggara-Cina. Fungsinya, agar bisa bersaing baik dalam sumberdaya manusia, sumber daya budaya dan sumber daya alam di ranah Asia Tenggara. Sehingga, dibentuk lah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC (Asean Economic Comunity). Lah terus kenapa lis- penulis??? isu ini awalnya terlihat biasa-biasa saja di permukaan, namun berbeda di dalamnya penguatan budaya lokal menciptakan beregam variasi pola di masyarakat. Dibeberapa kelompok masyarakat perkotaan mereka bahkan telah siap mengumangdangkan identitas budaya mereka agar mampu bersaing di ranah global. Yaa... meskipun kekuatan publikasi nya masih minim, tapi itulah yang nanti akan berproses dengan sendirinya. 
          Contoh dari aktifitas penguatan budaya ini dapat dilihat dari Festival Budaya Kampung Tjelaket. Tjelaket sendiri merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang berada di Kota Malang. Sebenarnya namanya adalah Kelurahan Rampal-Celaket dan tidak ditulis menggunakan 'Tj'. Huruf ejaan lama tersebut sebenarnya hanya digunakan sebagai brand karena budaya mengenal sejarah jadi harus 'jadul' biar kerasa "Tempoe Doloe' mungkin begitu. Tapi, ini hanya opini penulis saja lo...jadi tidak memiliki akurasi data yang cukup kuat. Kampung Budaya Tjelaket sebenarnya mengakomodir budaya lokal kota Malang dan menampilkannya dalam bentuk festival lokal. Menurut masyarakat disana, festival budaya sudah sering diadakan. Festival yang awalnya (2010) bernama Rampal Celaket Bersyukur ini akan menciptakan wahana pembelajaran akan pentingnya menjaga ketahanan budaya nusantara (sumber: http://kelrampalcelaket.malangkota.go.id/2016/07/21/fesstival-kampoeng-tjelaket/). Kampung Budaya Tjelaket ini diadakan 23-24 Juli 2016 dengan agenda pementasan budaya yang cukup padat dari mulai atraksi bantengan, talk show budaya, pasar rakyat hingga petas puisi lokal. kesadaran budaya lokal sebagai warisan nenek moyang dirasa menjadi satu modal untuk survive di ranah global. Menjadi untuk ditelaah bahwa gambaran mengenai kuatnya budaya lokal sebelumnya telah diramalkan oleh futurologi Naisbitt menjelaskan bahwa :
semakin kita menjadi universal, maka tindakan kita semakin menjadi kesukuan atau lebih berorientasi ‘kesukuan’ dan berpikir secara lokal, namun bertindak global” (Surahman, 2013, hlm. 32)
Referensi
Surahman, S. (2013). Dampak Globalisasi Media Terhadap Seni dan Budaya Indonesia. Jurnal Komunikasi, Volume 2, Nomor 1, Jan - April , 29 - 38.
 

- info : Liputan mengenai kampung budaya Tjelaket sedikit terbatas ya... karena keterbatasan tenaga dari penulis jadi hehehehe cuma liputan pentas seni bantengan saja, terimakasih
 Suasana Festival Kampung Budaya Tjelaket

Susunan Acara yang Padat

Gapura Masuk Area Pementasan Budaya

 Pasar Rakyat

Pertunjukan Seni Bantengan

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me